Mengupas Peran Ibu sebagai Madrasah Pertama Anak dalam Bimbingan Perkawinan di KUA Srono

KUA SRONO – BANYUWANGI, 21 Oktober 2026 -  Ibu adalah sekolah pertama bagi anak (al-ummu madrasatul ula). Peran krusial ini menjadi salah satu penekanan utama dalam bimbingan perkawinan (Bimwin) bagi para calon pengantin yang digelar di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Srono pada Rabu, 21 Oktober 2026.

Hadir sebagai pemateri, Umi Nadziroh, Penyuluh Agama Islam KUA Srono, mengupas tuntas betapa pentingnya peran dan kesiapan seorang calon ibu dalam melahirkan serta mendidik generasi masa depan. Dalam pemaparannya, Umi Nadziroh menjelaskan empat pilar utama makna dan peran ibu sebagai madrasah pertama bagi anak:

 

  • Pendidik Karakter Utama: Ibu membentuk akhlak, moral, etika, dan nilai-nilai keimanan anak sejak dalam kandungan hingga masa pertumbuhannya.
  • Sumber Pengetahuan Dini: Melalui sosok ibu, seorang anak pertama kali belajar berbicara, bersikap, mengenali emosi, serta memahami aturan dasar dalam kehidupan.
  • Teladan Utama: Anak-anak cenderung mengadopsi dan meniru apa yang mereka lihat serta dengar dari keseharian ibunya secara langsung, dibandingkan sekadar mendengarkan nasihat verbal.
  • Pondasi Generasi: Kualitas suatu bangsa maupun umat sangat ditentukan oleh kualitas didikan serta pola asuh yang diterapkan para ibu di dalam rumah tangga.

Wajib Terus Belajar dan Siap Menjadi Tempat Curhat

Lebih lanjut, Umi Nadziroh menekankan bahwa untuk menjadi madrasah yang baik, seorang ibu dituntut untuk tidak berhenti belajar. Perkembangan zaman dan karakter anak yang terus berubah mengharuskan para calon ibu untuk senantiasa memperluas wawasan serta meningkatkan kapasitas diri.

Selain aspek edukasi formal dan moral, ia juga menggarisbawahi pentingnya keterikatan emosional antara ibu dan anak. Ibu harus siap sedia menjadi wadah yang aman dan nyaman untuk tempat berbaginya cerita (curhat) anak-anak mereka.

"Secara psikologis dan alamiah, anak-anak memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk memilih ibu sebagai teman curhat dibandingkan ayah. Karena itu, seorang ibu harus memiliki empati yang tinggi, keterbukaan, serta menjadi pendengar yang baik agar anak tidak mencari perlindungan emosional di luar rumah yang belum tentu aman," tegas Umi Nadziroh di hadapan para peserta bimbingan.

Melalui bimbingan ini, diharapkan para calon pengantin di KUA Srono dapat memahami bahwa pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan, melainkan awal dari pembentukan generasi penerus yang berkarakter, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan zaman. (idear)

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama