Banyuwangi – KUA Cluring kembali menggelar kegiatan Bimbingan Perkawinan (BIMWIN) 24/09, bagi calon pengantin. Menariknya, kegiatan kali ini berlangsung secara hybrid; 5 pasang catin hadir langsung di aula KUA Cluring, sementara 10 pasang lainnya mengikuti lewat Google Meet.
Sejak awal, para peserta dibekali pemahaman tentang pentingnya BIMWIN sebagai kewajiban resmi sesuai Peraturan Menteri Agama (PMA) No. 30 Tahun 2024. “BIMWIN bukan sekadar formalitas, tapi bekal nyata untuk menata rumah tangga,” begitu pesan pembuka dari panitia.
Materi pertama mengusung tema hangat: “Beda Itu Romantis.” Para catin diajak menyadari bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan justru bisa menjadi sumber cinta dan saling melengkapi. Misalnya, laki-laki memiliki bagian otak bernama hipotalamus yang lebih besar. Itu sebabnya, dalam keseharian mereka cenderung lebih fokus dan langsung mencari solusi. Contoh sederhana: ketika lampu rumah mati, biasanya suami akan sigap memeriksa kabel atau mencari lilin.
Sementara perempuan memiliki corpus callosum yang lebih tebal. Bagian ini membuat mereka lebih piawai menghubungkan logika dengan emosi. Maka, ketika menghadapi masalah, istri biasanya lebih suka membicarakan perasaan terlebih dahulu sebelum mencari jalan keluar. Contoh praktisnya, saat ada masalah keuangan, istri bisa berkata, “Aku cemas kalau uang belanja kurang,” sambil tetap menimbang kebutuhan keluarga.
Kutipan dari pakar otak, dr. Aisah Dahlan, turut menguatkan pesan ini:
“Subhanallah, Allah memberikan perbedaan-perbedaan otak yang membuat laki-laki dan perempuan mengerti fungsi tugasnya masing-masing untuk saling men-support agar rumah tangga menjadi sakinah serta harmonis.”
Materi kedua tak kalah penting: “Berkah Keuangan Keluarga.” Peserta diberi gambaran bahwa rezeki rumah tangga bukan hanya soal nominal, tetapi juga keberkahan. Tips sederhana seperti transparansi dalam mengatur keuangan, membuat skala prioritas kebutuhan, hingga kebiasaan menabung bersama pasangan, dipaparkan untuk membantu catin menata masa depan finansial yang sehat.
Materi ketiga mengajak catin kembali ke hal-hal mendasar: rukun nikah dan rukun Islam. Penjelasan disampaikan dengan sederhana, sehingga para peserta semakin memahami bahwa rumah tangga yang sakinah tidak hanya dibangun dengan cinta, tapi juga harus kokoh secara syariat.
Di penghujung acara, Kepala KUA Cluring, Gunawan, menyampaikan harapannya. “Semoga ilmu yang didapat hari ini menjadi bekal berharga. Perbedaan jangan dijadikan alasan konflik, tetapi pintu untuk saling melengkapi. Dan semoga keluarga yang akan terbentuk benar-benar menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah,” ujarnya dengan penuh semangat. (Hr.S)




