Cahaya yang Turun di Antara Ayat dalam Kehadiran

                                     Cahaya yang Turun di Antara Ayat dan Kehadiran

Oleh : Syafaat

Sore itu menjelang ashar. Udara venue MTQ XIIII Jawa Timur di Jember masih hangat, langit mendung separuh jingga, dan langkah-langkah kecil menuju sebuah gedung dekat GOR Kaliwates terasa seperti perjalanan sederhana yang diselubungi makna dalam. Tidak ada suara motor yang lalu-lalang di jalan raya, ada anak-anak berseragam sekolah yang baru pulang, ada pedagang kaki lima yang mulai menata dagangan sore mereka. Di tengah kesibukan itu, ada sebuah perjalanan kecil yang tak pernah masuk berita: mengantar seorang peserta musabaqah hifdzil qur’an.

Tidak ada sambutan megah. Tidak ada karpet merah. Tidak ada tepuk tangan panjang seperti konser musik. Yang ada hanyalah gedung sederhana, poster yang ditempel standart, dan beberapa kursi yang disusun seadanya. Tapi justru dalam kesederhanaan itulah, cahaya sering turun diam-diam, menyelinap ke hati siapa saja yang hadir. Karena kehadiran, sekadar hadir, sekadar menatap, sekadar mendampingi, adalah bentuk motivasi yang tak pernah bisa dianggap remeh. 


Orang sering melupakan hal-hal kecil yang memberi kekuatan. Mereka lebih percaya pada pidato panjang, jargon-jargon kemenangan, dan janji-janji besar. Padahal, kadang yang dibutuhkan anak-anak hanyalah seseorang yang berjalan bersama mereka sampai ke pintu gedung perlombaan, menunggu di kursi Bersama menunggu giliran. Karena percaya diri bukanlah sesuatu yang lahir tiba-tiba dari dalam dada. Percaya diri sering kali lahir dari mata orang lain yang menatap dengan kasih.

Di depan pintu gedung itu, beberapa anak SMP berdiri dengan wajah polos. Ada yang sibuk merapikan jilbabnya agar terlihat cantik Ketika terekan kamera, ada yang sibuk membentangkan spanduk sekolah untuk penanda, ada yang sibuk dengan ponselnya. Guru-guru berdiri di samping mereka. Kepala sekolah memotret dengan ponsel, entah untuk laporan resmi atau sekadar dokumentasi. Foto itu mungkin nanti dikirim ke grup WhatsApp sekolah, mungkin akan jadi bahan cerita di ruang guru. Tapi yang jauh lebih penting daripada foto adalah keberadaan mereka di sana. Guru yang hadir, orang tua yang hadir, saudara yang hadir, semua adalah cahaya kecil yang menyala di hati anak-anak itu.

Anak-anak peserta sebenarnya tidak terlalu paham arti kemenangan. Mereka tidak terobsesi pada juara atau sertifikat. Bagi mereka, keberanian untuk tampil di depan Sembilan hakim juri dan orang banyak sudah merupakan kemenangan. Mereka hanya tahu bahwa ada ayat-ayat suci yang menempel di hati, dan hari itu mereka diminta menghafal dan melantunkannya.

Al-Qur’an bukan sekadar huruf dan bunyi. Ia adalah tubuh cahaya. Setiap ayat yang dilantunkan bukan hanya suara, tetapi doa. Ia membangun benteng dalam diri penghafalnya. Orang yang terbiasa merawat ayat Tuhan di kepalanya akan tumbuh dengan hati yang terlatih untuk bersih. Itulah mengapa dari para penghafal Al-Qur’an lahir dokter, insinyur, pemimpin, atau siapa saja yang berhasil menjaga kejernihan nurani di tengah dunia yang kian riuh.

Ada sebuah kalimat lama: “Kehadiran adalah bentuk cinta yang paling sederhana, dan mungkin yang paling penting.” Kalimat itu berulang-ulang menggemakan dirinya sendiri di kepala. Seorang anak yang berjalan menuju panggung ditemani ayah atau ibunya akan tampil lebih berani dibandingkan anak yang berjalan sendirian. Seorang remaja yang menoleh ke arah bangku penonton lalu menemukan ustadnya duduk di sana akan melantunkan ayat dengan lebih tenang. Kehadiran adalah doa yang menjelma bentuk. Musabaqah hifdzil qur’an bukanlah lomba biasa. Di sana, setiap kata adalah cahaya, setiap huruf adalah doa, setiap nafas adalah pengakuan atas kebesaran Tuhan. Anak-anak itu bukan sekadar berkompetisi, mereka sedang membangun percakapan sunyi dengan Yang Maha Abadi.

Di depan ruangan sebelah, seorang anak laki-laki duduk bersila dengan mushaf kecil yang lusuh. Bibirnya bergerak pelan, matanya menunduk. Sesekali ia berhenti, menutup mata, seakan-akan ingin menempelkan ayat itu lebih dalam ke dalam dadanya. Ia tidak membaca dengan suara keras, tetapi seakan-akan ayat itu mengalir melalui urat nadinya. Dari wajahnya yang masih belia, aku tahu bahwa Al-Qur’an tidak hanya dibaca dengan mulut, tetapi juga dengan hati.

Mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari mulut anak-anak adalah pengalaman yang menundukkan hati. Suara mereka murni, polos, belum bercampur ambisi. Tidak seperti qari dewasa yang terkadang terbiasa tampil dan mengatur suara untuk memikat penonton, anak-anak ini hanya punya satu tujuan: mempersembahkan ayat Tuhan dengan sebaik-baiknya. Ada kalanya doa seorang ibu yang membaca Al-Qur’an di samping tempat tidur anaknya lebih berharga dari seribu nasihat. Ada kalanya lantunan ayat dari bibir anak yang gemetar lebih sakral daripada orasi panjang di panggung megah. Karena di balik ayat itu ada kasih, ada harapan, ada doa yang terbungkus rindu.

Al-Qur’an memang berbeda. Ia mukjizat. Ia tetap sama di setiap zaman, di setiap lidah, di setiap tempat. Tidak berkurang, tidak bertambah, tidak berubah. Menghafalnya bukan hanya latihan mengingat, melainkan latihan menjaga kesetiaan. Itu sebabnya para ibu hamil sering membacakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk janin dalam kandungan. Mereka percaya irama ayat akan membuat detak jantung bayi lebih teratur. Ayat suci bisa jadi musik pertama yang didengar seorang manusia, musik yang membentuk hatinya sejak awal kehidupan. Dan bukankah hidup manusia pada dasarnya adalah perjalanan kembali ke ayat? Dari ayat yang pertama didengar di rahim, sampai ayat terakhir yang dibacakan di liang lahat. Hidup ini sebenarnya hanyalah jeda di antara dua bacaan: bacaan ibu ketika mengandung, dan bacaan doa orang-orang ketika kita tiada.

Sore itu di Jember, semua hal itu menjadi nyata. Anak-anak SMP datang dengan seragam rapi, guru-guru menunggu sabar, orang tua duduk jauh di kursi belakang sambil berdoa dalam diam. Tidak ada tepuk tangan meriah, tidak ada hadiah besar. Yang ada hanya ayat-ayat suci yang terus mengalir, memenuhi ruangan dengan ketenangan.

Dan aku belajar satu hal penting: kemenangan sejati bukanlah piala yang dibawa pulang. Kemenangan sejati adalah keberanian untuk berdiri, melafalkan ayat Tuhan dengan percaya diri, dan menyadari bahwa di setiap huruf yang terucap, ada cahaya yang turun, ada doa yang mengalir, ada kasih yang melingkupi.

Motivasi terbesar bukanlah kata-kata indah yang diucapkan orang. Motivasi terbesar adalah hadir. Hadir dengan seluruh tubuh, hadir dengan seluruh jiwa, hadir dengan doa yang tidak diucapkan tapi terasa.

Hadir untuk mendengar.

Hadir untuk menemani.

Hadir untuk percaya.

Bahwa setiap anak yang melafalkan Al-Qur’an adalah jembatan. Jembatan bagi cahaya abadi untuk sampai kepada kita semua. Dan di antara ayat-ayat itu, kita belajar kembali, bahwa cinta kadang turun dengan cara yang paling sederhana: dengan kehadiran.

Penulis adalah Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama