Musik Religi ASN: Harmoni Nada, Moderasi Iman

Banyuwangi, (Bimas Islam) Pagi di aula bawah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi tidak lagi sekadar ruang administrasi dan rapat kedinasan. Jumat itu, udara diisi oleh nada-nada lembut yang mengalun dari petikan gitar, denting keyboard, dan suara lirih yang menyatu dalam harmoni religi. Sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) tampak larut dalam latihan musik lintas iman—sebuah bentuk ekspresi spiritual yang melampaui batas institusi dan sekat agama. 


Di bawah pimpinan Purwo Widodo, Penyelenggara Bimbingan Masyarakat Katolik Kemenag Banyuwangi, kegiatan ini menjelma menjadi ruang kontemplatif yang menyatukan kerja, iman, dan seni. Pria yang dikenal memiliki kegemaran bermusik ini tidak sekadar memimpin latihan, tetapi menyalakan kesadaran baru bahwa musik dapat menjadi jembatan antara nilai keagamaan dan kemanusiaan.

> “Kelompok ini memang belum memiliki nama resmi, tetapi semangatnya sudah mengakar. Kami mencoba memainkan lagu-lagu religi dari berbagai tradisi — Islam, Nasrani, Hindu, dan Buddha — agar kita belajar mendengar, bukan hanya memainkan nada,” ujar Purwo di sela latihan, dengan senyum yang menyiratkan kedamaian.

Dalam perspektif ilmiah budaya, kegiatan ini dapat dibaca sebagai praktik musikal lintas iman — sebuah bentuk komunikasi estetis yang meneguhkan konsep moderasi beragama. Musik, dalam konteks ini, tidak sekadar hiburan, melainkan medium dialog simbolik. Ia menyalurkan pesan toleransi, mempertemukan keyakinan dalam nada yang sama, meski dengan ritme yang berbeda.


Purwo memahami bahwa harmoni dalam musik serupa dengan harmoni dalam masyarakat. Keduanya lahir dari kesediaan untuk mendengar satu sama lain. “Nada tunggal memang indah, tapi tak akan pernah menjadi lagu tanpa kesediaan berpadu,” katanya menambahkan, seolah ingin menegaskan bahwa kerukunan bukanlah hasil dari keseragaman, melainkan dari kesadaran bersama akan perbedaan.

Kelompok musik lintas ASN ini direncanakan akan tampil dalam rangkaian Hari Amal Bakti (HAB) Kementerian Agama ke-80. Lagu-lagu rohani pilihan dari berbagai tradisi akan mereka bawakan, bukan untuk mempertontonkan keberagamaan, melainkan untuk merayakan kemanusiaan yang sama-sama tumbuh di bawah cahaya iman.

Lebih dari sekadar latihan musik, kegiatan ini menjadi metafora bagi perjumpaan spiritual di tengah keberagaman. Setiap denting alat musik, setiap helai suara, menjadi semacam doa yang terucap melalui bunyi. Di ruang yang biasanya diisi suara administrasi dan notulensi rapat, kini bergetar makna yang lebih dalam: bahwa harmoni sosial sesungguhnya lahir dari nada-nada kecil yang saling mendengarkan.

Jika kelak kelompok musik ini menjadi tradisi baru di Kemenag Banyuwangi, maka sejarahnya tidak akan ditulis dengan tinta kebijakan, melainkan dengan gema nada yang menebar damai. Di sanalah para ASN belajar bahwa pelayanan umat tidak hanya dilakukan lewat pena dan surat tugas, tetapi juga melalui harmoni — harmoni antara bunyi dan budi, antara iman dan insan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama