Buku itu Karya Chaironi Hidayat

 *Buku itu Karya Chaironi Hidayat*

Ada pertemuan yang tidak pernah kita rencanakan, tetapi Allah sudah lebih dulu menuliskannya di langit. Kita hanya berjalan ke arahnya, satu langkah demi satu langkah, tanpa tahu bahwa suatu hari kelak, pertemuan itu akan menjadi bagian penting dalam cerita hidup kita.

Begitulah kira-kira awal mula saya mengenal seorang lelaki bernama Chaironi. Saya tidak hafal nama lengkapnya, sebagaimana kita tak selalu hafal nama panjang dari takdir-takdir yang pernah singgah. Saya hanya mengenalnya dengan nama depan itu—Chaironi—ketua kloter dari Kabupaten Situbondo, tahun 2017. Tahun ketika dada kami sama-sama berdebar, bukan karena kami orang hebat, tetapi justru karena kami berdua sama-sama baru pertama kali menjadi petugas haji. Bahkan haji pun belum pernah. Umrah pun belum pernah. Tetapi Allah menempatkan kami di posisi memandu orang-orang yang hendak memenuhi panggilan ke rumah-Nya. 


Ada kerendahan hati yang lahir dari ketidaktahuan, dan ada keberanian yang tumbuh dari keikhlasan. Mungkin itulah yang mempertemukan dua orang asing dari dua kota berbeda di satu ruang yang sama: ruang pelayanan, ruang pengabdian, ruang penuh syukur yang diselipi cemas.

Tahun 2017 adalah tahun ketika Masjidil Haram baru saja menuntaskan pembangunan besarnya. Tahun ketika kuota haji kembali dibuka lebar, bahkan bertambah sekitar 30%. Dari tambahan itu, sebagian besar adalah jamaah lanjut usia—orang-orang yang menunggu sepanjang umur, menahan rindu selama puluhan tahun, hanya untuk dapat berhenti di depan Ka’bah satu kali sebelum mata mereka terpejam untuk selamanya.

Dari tambahan itu pula, sebagian tiba-tiba menjadi amanah saya. Banyak di kloter saya jamaah Risti dan lansia, ada sekitar enam puluh orang yang ketika thawah pakai kursi roda, ditambah Enam jamaah dari luar kota saya, dua di antaranya berasal dari Situbondo—jamaah Ustadz Chaironi. Sepasang suami istri tua, yang perempuan dengan kursi roda, yang laki-laki pikun dengan tatapan kosong seolah waktu sudah tak lagi punya makna untuknya.

Mereka tidak tinggal satu hotel dengan saya ketika di Madinah, saat itu jamaah saya terbagi dalam tiga hotel. Mereka seperti amanah yang “dicicil” oleh takdir: diberi sebentar, lalu dijauhkan sebentar, agar saya tidak lupa bahwa pelayanan bukan hanya tentang kemampuan, tetapi tentang kesabaran. Di Makkah, barulah mereka benar-benar menjadi urusan saya. Dan urusan itu bukan ringan—sebagaimana tidak ada yang benar-benar ringan ketika seseorang sudah menyerahkan hidupnya pada kita karena ia tidak mampu lagi menjalani sendiri. Saya hanya punya satu doa:

“Ya Allah, mudahkanlah urusanku.”

Sebab saya tahu, masalah tidak mungkin hilang. Yang tua pasti merepotkan. Yang pikun pasti menyulitkan. Yang tak bisa berjalan pasti membutuhkan tangan-tangan lain. Yang penting hanya ini: Allah memudahkan langkah saya pada jalan yang sudah saya terima dengan ikhlas.

Pada malam pertama pelaksanaan umrah, saya menghubungi Ustadz Chaironi, janjian menyelesaikan tugas kami melayani umat. Jamaah Situbondo itu saya bawa ke Terminal Syib Amir. Sekitar jam sepuluh malam, kami bertemu. Saya serahkan mereka kepada beliau untuk di-umrah-kan bersama ketua rombongannya.

Selesai umrah, saya menawarkan—dalam hati penuh harap—agar jamaah lanjut usia itu dibawa beliau kembali. Tetapi Ustadz Chaironi memilih patuh pada prosedur:

“Biar saya kembalikan ke sampean lagi, seperti prosedurnya.”

Memang sesuai prosedur kami harus menyerahkan kepada ketua kloter awal melalui sektor dan beberapa hari kemudian sektor pun memproses perpindahan damai ini dari kloter saya ke kloter Ustadz Chaironi. Ada kelegaan, ada lelah, dan ada rasa hormat. Saya mulai mengerti: ini bukan perkara sekadar tugas. Ini perkara amanah. Dan amanah memang tidak boleh dipindah-pindahkan hanya karena kita lelah.

Di perjalanan pulang, bus kami sempat melaju meninggalkan mereka. Pintu tertutup otomatis. Mesin bergerak. Dan saya berada di dalamnya bersama jamaah lain yang tidak saya kenal, tanpa jamaah memakai kursi roda yang harusnya ikut. Saya memukul-mukul kursi pengemudi. Saya tidak tahu bahasa apa yang saya pakai—bahasa Arab campur doa, campur panik, campur harap. Sopir keberatan karena berhenti di jalur keluar terminal dilarang. Tapi saya jelaskan bahwa ada jamaah yang harus saya jaga.

Akhirnya saya diturunkan di tengah jalan, di pintu keluar terminal, gelap, bising, kacau. Tetapi dari kejauhan, saya lihat bus dari belakang mendekat. Saya kenal kodenya, karena ustaz Chairani mengirimkan kabar melalui WA bahwa jamaah yang memakai kursi roda dan dokter yang mendampingi sudah naik di bis di belakang saya dengan nomor polisi yang dikirim. Saya angkat tangan dengan isyarat profesional—semacam kode internasional yang ternyata dipakai pula di Makkah. Bus berhenti.

Di dalamnya—Alhamdulillah—ada jamaah saya, ada dokter kloter yang tidak bisa bahasa Madura. Dan ada rasa syukur yang menetes dari langit malam itu, entah seperti hujan, entah seperti cahaya. Malam itu, saya dan Ustadz Chaironi tiba-tiba menjadi lebih dekat. Bukan karena kesamaan profesi, tetapi karena kesamaan beban yang ditanggung dengan keikhlasan. Waktu bergeser seperti matahari yang setia, pelan tapi pasti, tanpa suara.

Lima tahun kemudian, saya bertemu beliau lagi. Saat itu ia masih menjadi Kepala Kemenag Sumenep. Kami hanya ngopi, hanya obrolan kecil. Tetapi dari yang kecil itulah Allah sering membesarkan sesuatu. Suatu saat kami ngobrol, beliau menjadi Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, sambil ngopi saya nyeletuk:

“Pak Roni dari Sumenep kalau mutasi, ke Banyuwangi enak.”

Dan ternyata benar: penghujung tahun 2023, beliau dimutasi menjadi Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi—pimpinan saya. Takdir memang tidak pernah berjalan lurus. Ia berputar, berkelok, kadang menjauh, lalu kembali mendekat ketika kita sudah siap menerima.

Saya tidak selancang dulu bicara padanya. Jabatan membuat jarak seperti membuat pagar yang tak terlihat, meskipun beliau tidak menjaga jarak tetapi adat ketimuran mengharuskan kesopanan kepala yang dituakan, saya sendiri yang merasa sungkan dan satu hal yang saya ingat ketika awal beliau di Banyuwangi, saya pernah mengatakan satu hal:

“Pak, kalau jadi Kepala Kemenag Banyuwangi, ada satu syarat. Harus bisa membaca puisi dan menulis.”

Dan beliau—dengan tawadhu' yang khas—menjawab tantangan itu. Beliau menulis puisi untuk antologi Dewan Kesenian Blambangan. Beliau membacakannya di pendopo Saba Swagata, disaksikan Bupati Banyuwangi. Kemudian ketika guru-guru Madrasah Ibtidaiyah menulis buku. Beliau menulis juga di dalamnya—artikel rapi, runtut, dengan aroma keilmuan pesantren yang kuat.

Dan di penghujung tahun 2025, sebuah buku terbit dari ceramah-ceramah Ramadannya, berisi pengantar dan penjelasan atas 13 hadis Arbain Nawawi. Rasanya seperti menyaksikan perjalanan panjang seorang santri yang tidak pernah benar-benar berhenti menjadi santri, meski jabatan telah berganti-ganti.

Ketika saya menatap kembali rangkaian peristiwa sejak 2017 hingga kini, saya melihat sesuatu yang lebih dalam dari sekadar hubungan profesional: saya melihat bagaimana Allah mempertemukan hamba-hamba-Nya pada waktu yang paling tepat.

Kami dipertemukan pertama kali sebagai dua orang yang sama-sama takut salah. Kami dipertemukan lagi sebagai dua orang yang sama-sama belajar. Dan hari ini kami dipertemukan sebagai dua orang yang sama-sama dewasa dalam pengabdian, meski posisi kami berbeda. Beliau kepala kantor, sedangkan saya adalah orang yang masih Istiqomah sebagai staf.

Ada orang yang datang dalam hidup kita sebagai ujian. Ada yang datang sebagai pelipur. Ada yang datang sebagai guru. Dan ada pula yang datang sebagai saksi perjalanan kita sendiri—bahwa kita pernah berjuang, pernah jatuh, pernah bangkit, dan pernah setia kepada amanah. Ustadz Chaironi bagi saya adalah semuanya itu dalam satu sosok. Jika saya diminta merangkum seluruh perjalanan ini dalam satu kalimat sastra, barangkali saya akan menulis:

Dan sampai hari ini, setiap kali saya mengingat kursi roda itu, bus yang melaju tanpa saya sempat turun, malam Syib Amir yang gaduh, atau tawa singkat saat ngopi bareng, saya tahu satu hal:

Cerita ini bukan tentang saya. Bukan tentang Ustadz Chaironi. Ini cerita tentang bagaimana Allah menulis perjalanan hamba-hamba-Nya dengan tinta kasih sayang yang tidak pernah habis. Dan kita—hanya tinggal membacanya dengan hati yang tunduk.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama