Kultum Duha di Masjid Ar Royan Kemenag Banyuwangi, H. Jali Ingatkan Bahwa Abdi Negara adalah Pelayan yang Tulus dan Profesional

Banyuwangi (Bimas Islam) Suasana Masjid Ar Royan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi pada Kamis pagi (12/2/2026) dipenuhi keteduhan. Dalam kegiatan kultum duha yang rutin dilaksanakan, Kepala Subbagian Tata Usaha Kemenag Banyuwangi, Moh. Jali, menyampaikan tausiyah tentang hakikat kepemimpinan dan keikhlasan dalam menjalankan amanah sebagai abdi negara sekaligus pelayan masyarakat.


Dalam penyampaiannya, Moh. Jali menegaskan bahwa status sebagai aparatur sipil negara bukan sekadar jabatan administratif, tetapi juga amanah kepemimpinan. “Yang melekat dalam diri kita bukan hanya status sebagai abdi negara dan pelayan masyarakat, tetapi juga sebagai pemimpin. Sekecil apa pun peran kita, di situ ada tanggung jawab,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa dalam ajaran Islam, pemimpin pada hakikatnya adalah pelayan bagi yang dipimpinnya. Nabi Muhammad SAW, lanjutnya, telah mencontohkan bagaimana seorang pemimpin hadir sebagai pembantu umat, bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. “Pemimpin sejatinya adalah pelayan. Ia membantu, mengatur, dan memastikan kemaslahatan bersama,” tegasnya.

Untuk memperjelas makna keikhlasan dalam beramal, Moh. Jali mengisahkan sebuah cerita tentang seorang ahli ibadah yang dikenal sangat dekat dengan Allah. Banyak orang datang memintakan doa kepadanya karena dianggap doanya mustajab. Suatu ketika, ia berniat menebang sebuah pohon yang dijadikan tempat praktik kemusyrikan oleh sebagian orang.

Pada niat pertamanya, ia melakukannya semata-mata karena Allah. Namun di tengah perjalanan, datang godaan berupa janji imbalan harta agar ia mengurungkan niatnya. Ketika motivasinya mulai bergeser karena pertimbangan duniawi, ia kehilangan kekuatan dan tidak lagi mampu menuntaskan niat tersebut. Dari kisah itu, Moh. Jali menekankan bahwa kekuatan sejati terletak pada kemurnian niat.

“Ketika kita bekerja benar-benar karena Allah, insyaallah akan diberi kemudahan. Tetapi ketika niat itu bercampur dengan kepentingan pribadi, di situlah kelemahan mulai muncul,” ungkapnya.

Ia mengajak seluruh pegawai Kementerian Agama untuk menjadi pribadi yang profesional sekaligus ikhlas dalam bekerja. Profesional dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, dan ikhlas karena menyadari bahwa setiap pekerjaan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Mengutip makna firman Allah, ia mengingatkan bahwa setiap amal akan diperlihatkan, bukan hanya oleh Allah, tetapi juga oleh Rasul dan orang-orang beriman, sebelum akhirnya dikembalikan kepada Allah sebagai Zat Yang Maha Mengetahui.

Kultum duha tersebut ditutup dengan ajakan untuk terus menjaga integritas, memperbaiki niat, serta membangun budaya kerja yang berorientasi pada pelayanan dan kemaslahatan umat. Suasana khidmat menyertai doa penutup, meneguhkan kembali komitmen seluruh jajaran untuk bekerja dengan hati yang tulus dan penuh tanggung jawab.

Banyuwangi (Bimas Islam) Suasana Masjid Ar Royan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi pada Kamis pagi (12/2/2026) dipenuhi keteduhan. Dalam kegiatan kultum duha yang rutin dilaksanakan, Kepala Subbagian Tata Usaha Kemenag Banyuwangi, Moh. Jali, menyampaikan tausiyah tentang hakikat kepemimpinan dan keikhlasan dalam menjalankan amanah sebagai abdi negara sekaligus pelayan masyarakat.

Dalam penyampaiannya, Moh. Jali menegaskan bahwa status sebagai aparatur sipil negara bukan sekadar jabatan administratif, tetapi juga amanah kepemimpinan. “Yang melekat dalam diri kita bukan hanya status sebagai abdi negara dan pelayan masyarakat, tetapi juga sebagai pemimpin. Sekecil apa pun peran kita, di situ ada tanggung jawab,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa dalam ajaran Islam, pemimpin pada hakikatnya adalah pelayan bagi yang dipimpinnya. Nabi Muhammad SAW, lanjutnya, telah mencontohkan bagaimana seorang pemimpin hadir sebagai pembantu umat, bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. “Pemimpin sejatinya adalah pelayan. Ia membantu, mengatur, dan memastikan kemaslahatan bersama,” tegasnya.

Untuk memperjelas makna keikhlasan dalam beramal, Moh. Jali mengisahkan sebuah cerita tentang seorang ahli ibadah yang dikenal sangat dekat dengan Allah. Banyak orang datang memintakan doa kepadanya karena dianggap doanya mustajab. Suatu ketika, ia berniat menebang sebuah pohon yang dijadikan tempat praktik kemusyrikan oleh sebagian orang.

Pada niat pertamanya, ia melakukannya semata-mata karena Allah. Namun di tengah perjalanan, datang godaan berupa janji imbalan harta agar ia mengurungkan niatnya. Ketika motivasinya mulai bergeser karena pertimbangan duniawi, ia kehilangan kekuatan dan tidak lagi mampu menuntaskan niat tersebut. Dari kisah itu, Moh. Jali menekankan bahwa kekuatan sejati terletak pada kemurnian niat.

“Ketika kita bekerja benar-benar karena Allah, insyaallah akan diberi kemudahan. Tetapi ketika niat itu bercampur dengan kepentingan pribadi, di situlah kelemahan mulai muncul,” ungkapnya.

Ia mengajak seluruh pegawai Kementerian Agama untuk menjadi pribadi yang profesional sekaligus ikhlas dalam bekerja. Profesional dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, dan ikhlas karena menyadari bahwa setiap pekerjaan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Mengutip makna firman Allah, ia mengingatkan bahwa setiap amal akan diperlihatkan, bukan hanya oleh Allah, tetapi juga oleh Rasul dan orang-orang beriman, sebelum akhirnya dikembalikan kepada Allah sebagai Zat Yang Maha Mengetahui.

Kultum duha tersebut ditutup dengan ajakan untuk terus menjaga integritas, memperbaiki niat, serta membangun budaya kerja yang berorientasi pada pelayanan dan kemaslahatan umat. Suasana khidmat menyertai doa penutup, meneguhkan kembali komitmen seluruh jajaran untuk bekerja dengan hati yang tulus dan penuh tanggung jawab.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama