Menapaki Jalan Dakwah


 Menapaki Jalan Dakwah: Perjalanan Penyuluhan Memberantas Buta Huruf Al-Qur’an

Perjalanan dakwah tidak selalu berlangsung di mimbar besar atau ruang-ruang megah. Bagi para penyuluh agama, dakwah sering kali dimulai dari ruang sederhana, lantai masjid, sudut mushala, hingga rumah-rumah warga. Di sanalah upaya pemberantasan buta huruf Al-Qur’an dijalankan dengan penuh kesabaran dan ketulusan.

Setiap langkah perjalanan penyuluhan menghadirkan tantangan tersendiri. Tidak sedikit masyarakat, khususnya orang dewasa dan lanjut usia, yang merasa malu atau ragu untuk belajar membaca Al-Qur’an. Namun, melalui pendekatan yang persuasif dan penuh empati, para penyuluh berusaha menumbuhkan kepercayaan diri peserta bahwa belajar Al-Qur’an tidak mengenal batas usia. Hal itu yang dilakukan Siti Muniroh, S.Pd.Ii, seorang penyuluh KUA bangorejo dalam momong orang dewas belajar  abata sta di lantai masid Sabilul Muttaqien Bangorejo tiap 2 hari sekali dengan telaten dan sabat. 

Kegiatan penyuluhan dilaksanakan secara bertahap, dimulai dari pengenalan huruf hijaiyah, pelafalan yang benar, hingga pembelajaran tajwid dasar. Metode pembelajaran disesuaikan dengan kemampuan peserta, sehingga proses belajar berlangsung santai namun tetap terarah. Setiap kemajuan kecil menjadi kebahagiaan tersendiri, baik bagi peserta maupun penyuluh.

Perjalanan penyuluhan sering kali dengn fasilitas yang terbatas. Namun, semangat untuk menghadirkan Al-Qur’an lebih dekat dengan masyarakat menjadi penguat langkah. Senyum dan rasa syukur peserta saat mampu membaca ayat-ayat Al-Qur’an untuk pertama kalinya menjadi bukti bahwa perjuangan tersebut tidak sia-sia.

Lebih dari sekadar kegiatan belajar membaca, penyuluhan ini juga menjadi sarana pembinaan akhlak dan penguatan nilai-nilai keislaman. Melalui interaksi yang berkelanjutan, terjalin hubungan yang erat antara penyuluh dan masyarakat, menciptakan suasana belajar yang hangat dan penuh kebersamaan.

Perjalanan penyuluhan memberantas buta huruf Al-Qur’an adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan komitmen. Namun, di balik setiap huruf yang berhasil dibaca, tersimpan harapan besar akan lahirnya masyarakat yang semakin mencintai Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman dalam kehidupan sehari-hari. (www.ndelalahkuabangogo.id)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama