KUA SRONO, BANYUWANGI – Suasana Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Srono pagi ini, Selasa (12/12/2026), tampak berbeda. Sejumlah pasangan calon pengantin (catin) berkumpul bukan sekadar untuk urusan administrasi, melainkan untuk membekali diri dalam kegiatan Bimbingan Perkawinan (Bimwin).
Sesuai dengan PMA Nomor 30 Tahun 2024, mengikuti bimbingan ini kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kewajiban bagi setiap calon pengantin sebelum melangkah ke pelaminan.
Menghadirkan Romantisme dalam Rumah Tangga
Hadir sebagai narasumber, Badrul Komari, Penyuluh Agama Islam KUA Srono, menyampaikan materi dengan lugas dan interaktif. Ia menekankan bahwa fondasi rumah tangga bukan hanya soal kecukupan materi, melainkan kemampuan menjaga api asmara tetap menyala.
"Dalam rumah tangga, kita harus selalu menghadirkan romantisme. Jangan sampai antara suami dan istri justru terjebak dalam kebisuan. Komunikasikan segala hal dengan bahasa cinta, karena itulah yang akan merekatkan hubungan di masa-masa sulit," pesan Badrul di hadapan para peserta.
Antusiasme Pasangan Dokter
Di antara deretan peserta, perhatian tertuju pada pasangan dr. Dwi Puspa Setiawan dan calon istrinya, dr. Yomanda Dea Damara. Meski sehari-hari berkutat dengan dunia medis yang sibuk, pasangan sejawat dokter ini tampak sangat antusias mengikuti setiap sesi materi dari awal hingga akhir.
Saat ditemui di sela-sela kegiatan, dr. Dwi Puspa mengungkapkan kesan mendalamnya terhadap suasana bimbingan pagi ini:
"Jujur, awalnya kami mengira ini hanya formalitas. Tapi ternyata suasananya seru dan materinya sangat 'daging'. Terutama tips soal menjaga bahasa cinta tadi, itu pengingat penting bagi kami yang sama-sama punya jadwal padat agar tetap bisa romantis nanti setelah menikah," ujar dr. Dwi Puspa dengan semangat.
Mengapa Bimwin Itu Penting?
Berdasarkan aturan terbaru, bimbingan ini bertujuan untuk:
Menurunkan angka perceraian melalui edukasi manajemen konflik.
Mempersiapkan ketahanan keluarga dari sisi ekonomi dan kesehatan.
Edukasi stunting bagi calon ibu dan ayah.
Kegiatan pagi ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang hangat, membuktikan bahwa kesiapan mental jauh lebih penting daripada sekadar kemegahan pesta pernikahan. (idear).
