![]() |
| Pembinaan calon jamaah haji |
TEGALDLIMO – Suasana khidmat dan penuh harapan menyelimuti aula Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tegaldlimo pada Senin (22/9). Sebanyak 10 calon jamaah haji dari berbagai desa di wilayah Tegaldlimo, yang diperkirakan akan berangkat pada musim haji tahun 2026, berkumpul untuk mengikuti kegiatan pembinaan awal. Acara ini menandai dimulainya perjalanan spiritual mereka jauh sebelum hari keberangkatan, menekankan bahwa ibadah haji adalah proses panjang yang menuntut kesiapan menyeluruh.
Kegiatan yang diinisiasi langsung oleh KUA Tegaldlimo ini dibuka secara resmi oleh Kepala KUA, Bapak Lukman Hakim, S.HI., dan didampingi oleh staf pelaksana bagian haji dan umrah, Ibu Mega Dwi Aprilia, S.H. Dalam arahannya, Lukman Hakim menegaskan bahwa pembinaan ini bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi utama untuk membangun jamaah yang mandiri, berilmu, dan fokus pada tujuan utama ibadah.
"Perjalanan menuju Baitullah bukanlah perjalanan biasa. Ini adalah panggilan suci yang prosesnya dimulai sejak niat terpatri di hati, saat mendaftar, dan selama masa penantian," ujar Lukman Hakim dengan suara yang tenang namun tegas. "Masa tunggu adalah waktu berharga untuk membekali diri. Jangan sampai persiapan kita hanya sebatas urusan koper dan administrasi. Yang terpenting adalah persiapan ruhani, membersihkan hati, meluruskan niat, dan memperdalam ilmu manasik. Inilah esensi dari pembinaan yang kita mulai hari ini."
Fokus pada Pembekalan Dini
Berbeda dari bimbingan manasik yang biasanya intensif menjelang keberangkatan, pertemuan perdana ini lebih berfokus pada aspek psikologis dan persiapan jangka panjang. Ibu Mega Dwi Aprilia, S.H., memaparkan secara rinci mengenai alur persiapan yang akan dihadapi para calon jamaah.
"Bapak dan Ibu adalah tamu-tamu Allah yang terpilih, yang saat ini masuk dalam masa penantian. Masa ini harus kita manfaatkan secara produktif," jelas Mega. Ia merinci beberapa poin penting yang menjadi fokus pembinaan awal, antara lain:
Menjaga Kesehatan Jasmani: Para calon jamaah diimbau untuk mulai menerapkan pola hidup sehat, rutin berolahraga ringan seperti jalan kaki, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. "Kondisi fisik yang prima adalah modal utama untuk melaksanakan rangkaian ibadah haji yang cukup menuntut secara fisik," tambahnya.
Kesiapan Mental dan Spiritual: Calon jamaah didorong untuk memperbanyak ibadah, mengikuti pengajian di lingkungannya, serta mulai belajar mengendalikan kesabaran dan keikhlasan sebagai latihan spiritual.
Kemandirian Jamaah: Materi juga menyentuh pentingnya kemandirian, mulai dari hal-hal teknis seperti cara menggunakan fasilitas di asrama haji dan pesawat, hingga kemandirian dalam beribadah agar tidak bergantung sepenuhnya pada ketua rombongan.
Status Dokumen dan Administrasi: Para jamaah diingatkan untuk memeriksa kembali validitas paspor dan dokumen penting lainnya, serta diinformasikan mengenai tahapan administrasi selanjutnya yang perlu mereka antisipasi.
Suasana menjadi interaktif saat sesi tanya jawab dibuka. Beberapa calon jamaah mengungkapkan rasa haru dan syukurnya karena mendapatkan pendampingan lebih awal dari KUA. Salah seorang peserta, Ibu Saerah (90) dari Desa Kedungasri, mengaku lebih tenang setelah mengikuti acara ini.
"Jujur, awalnya saya masih bingung apa saja yang harus disiapkan selama menunggu dua tahun ini. Alhamdulillah, hari ini dijelaskan secara rinci. Saya jadi tahu apa yang harus saya lakukan, terutama soal menjaga kesehatan dan mulai belajar manasik sedikit demi sedikit," tuturnya.
Kegiatan pembinaan ini direncanakan akan menjadi program berkelanjutan. KUA Tegaldlimo berkomitmen untuk mengadakan pertemuan rutin setiap beberapa bulan sekali dengan materi yang berbeda, memastikan para calon jamaah haji dari wilayahnya mendapatkan bekal yang cukup dan terstruktur hingga tiba waktunya mereka diberangkatkan ke Tanah Suci. (WH)
