KUA Kecamatan Srono Gelar Pembinaan Kenakalan Remaja di MTs N 3 Banyuwangi

 


KUA Kecamatan Srono_Banyuwangi — Suasana AULA MTs N 3 Banyuwangi tampak ramai namun tertib pada kegiatan pembinaan yang digelar oleh Penyuluh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Srono, Kamis pagi. Kegiatan yang mengusung tema “Mencegah Kenakalan Remaja di Era Digital” ini diikuti oleh puluhan siswa-siswi MTs N 3 Banyuwangi dari berbagai jenjang kelas. Para peserta terlihat antusias sejak acara dimulai hingga akhir kegiatan.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala KUA Kecamatan Srono, H. Amin Maki, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya pembinaan karakter bagi remaja, terutama di tengah derasnya arus informasi dan tantangan digital. Beliau menyampaikan bahwa generasi muda adalah aset berharga yang harus dijaga, dibimbing, dan diberi pemahaman yang tepat agar tidak terjerumus pada perilaku negatif.

Setelah sambutan pembukaan, acara dilanjutkan dengan materi pertama yang disampaikan oleh Badru Komari, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Srono. Dalam penyampaiannya, Badru menguraikan secara rinci tentang definisi remaja, karakteristik masa transisi, serta berbagai faktor yang menjadi penyebab kenakalan remaja. Ia menjelaskan bahwa kenakalan remaja dapat dipicu oleh banyak hal, mulai dari lingkungan pergaulan, kurangnya kontrol keluarga, hingga pengaruh media digital. Badru juga memberikan contoh kasus-kasus yang sering terjadi dan cara pencegahan yang dapat dilakukan oleh peserta didik.

Materi kedua disampaikan oleh Iskandar, juga seorang Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Srono. Dengan gaya penyampaian yang komunikatif, Iskandar mengajak siswa-siswi untuk menjauhi praktik judi online, yang kini banyak menyasar remaja dan pelajar. Ia menjelaskan dampak merusak dari judi online, baik secara psikologis, ekonomi keluarga, maupun moral peserta didik. Selain itu, Iskandar memberikan tips bijak menggunakan gawai, seperti membatasi waktu penggunaan, memilih konten positif, serta menjaga etika komunikasi digital. Ia juga mengajak peserta untuk mempraktikkan penggunaan gadget yang produktif, misalnya untuk belajar, mengembangkan bakat, atau memperkuat keimanan melalui konten keagamaan.

Selama kegiatan berlangsung, suasana aula tampak hidup. Para siswa duduk rapi, sebagian mencatat poin penting, sementara yang lain aktif bertanya ketika sesi dialog dibuka. Para guru pendamping juga terlihat turut mengamati dan membantu menjaga kondusivitas acara. Penyampaian materi yang diselingi contoh nyata dan ajakan interaktif membuat peserta didik lebih mudah memahami pesan yang disampaikan.

Secara keseluruhan, kegiatan pembinaan ini berjalan lancar dan penuh makna. Para penyuluh berharap pembinaan tersebut dapat menjadi bekal penting bagi para siswa agar mampu tumbuh sebagai generasi yang berkarakter, sehat secara mental, dan mampu menggunakan teknologi secara bijak. Pihak sekolah pun menyambut positif kegiatan ini dan berharap kerja sama serupa dapat terus berlanjut demi pembinaan peserta didik yang lebih baik.(idear)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama