Di Kepala yang Berudeng, Agama Belajar Menjadi Ramah
oleh : Syafaat
Rabu pagi, pesan itu datang seperti kabar biasa. Sebuah kiriman di grup agenda tahunan Jawa Pos Radar Banyuwangi. Tentang penganugerahan. Tentang mereka yang dianggap berjasa, berkontribusi, dan layak dicatat dalam ingatan publik. Tiga puluh lima nama, ditambah satu. Yang satu itu disebut istimewa: Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia.
Saya tidak hendak membahas mereka. Bukan karena tidak penting, melainkan karena daftar panjang sering kali membuat makna tercerai. Nama-nama yang berjajar rapi justru kerap menjauhkan kita dari wajah manusia di baliknya. Karena itu, saya memilih satu nama. Satu wajah. Satu sikap hidup.
Dr. Chaironi Hidayat.
Ia adalah Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Sebuah jabatan yang, dalam bayangan awam, identik dengan meja kerja, surat edaran, regulasi, dan angka-angka administratif. Namun pada dirinya, jabatan itu tidak berdiri sendiri. Ia berjalan beriringan dengan kesunyian, dengan kata-kata, dengan kesadaran bahwa agama tidak pernah lahir untuk memusuhi kebudayaan.
Yang menarik—bahkan menggetarkan—adalah satu kenyataan sederhana: ia bukan orang Banyuwangi. Darahnya bukan berasal dari tanah Osing. Namun cintanya tumbuh di sini. Dan cinta, seperti iman, tidak menuntut asal-usul. Ia menuntut kesetiaan.
Udeng Osing yang hampir selalu ia kenakan bukan sekadar aksesori. Ia adalah pernyataan. Sebuah syahadat kultural. Bahwa menjadi bagian dari suatu tempat bukan soal di mana seseorang dilahirkan, melainkan soal keberanian memilih berpihak kepada nilai-nilai lokal yang kerap rapuh di tengah zaman yang gemar menyeragamkan wajah dan selera.
Dalam tradisi agama, kita mengenal konsep amanah. Sebuah tanggung jawab yang tidak sekadar ditunaikan, tetapi dijaga dengan rasa takut kepada Tuhan. Chaironi membaca amanah itu melampaui batas administratif. Ia melihatnya sebagai kewajiban merawat kebudayaan. Sebab ia paham: agama tanpa budaya akan menjadi kering, dan budaya tanpa nilai akan kehilangan arah.
Karena itu, melalui institusi yang ia pimpin, seni dan tradisi tidak diposisikan sebagai pelengkap seremoni. Ia dorong menjadi napas. Menjadi cara beragama yang ramah. Menjadi jalan dakwah yang tidak berteriak, tetapi mengetuk pelan kesadaran.
Penghargaan Sun Rise of Java Award yang ia terima bertema Moderasi Beragama. Tema itu bukan slogan kosong. Beberapa tahun terakhir, moderasi beragama di Banyuwangi tidak berhenti sebagai wacana. Ia dijelmakan dalam kerja-kerja konkret. Empat Kampung Moderasi Beragama ditetapkan melalui Surat Keputusan Kepala Kantor Kementerian Agama. Sebuah ikhtiar agar toleransi tidak hanya dibicarakan di ruang seminar, tetapi dihidupkan di kampung-kampung.
Kegiatan pemupukan moderasi beragama terus digerakkan dengan melibatkan para Kepala KUA di tingkat kecamatan. Para penyuluh agama—Islam, Hindu, Buddha, dan Katolik—berjumpa dalam kemah moderasi beragama. Di sana, iman tidak saling mencurigai, melainkan saling belajar untuk rendah hati. Banyuwangi dirawat bukan hanya sebagai ruang administratif, tetapi sebagai rumah bersama.
Dan memang, Banyuwangi tidak pernah lahir dari satu wajah. Ia tumbuh dari beragam suku. Ia bernafas dari berbagai agama. Ia menjadi besar justru karena perbedaan tidak diperlakukan sebagai ancaman, melainkan sebagai anugerah.
Di tengah iklim birokrasi yang sering alergi pada imajinasi, Chaironi menulis. Ia bersastra. Dan sastra, dalam pengertian paling sunyi, adalah ibadah. Menulis berarti menunda penghakiman. Memberi ruang bagi empati. Mengakui bahwa manusia selalu lebih luas daripada definisi-definisi formal.
Kehadiran seorang pimpinan yang bersahabat dengan puisi adalah anomali yang patut dirawat. Ia membuktikan bahwa religiusitas tidak harus kaku. Bahwa menjadi aparatur negara tidak berarti mematikan nurani estetik. Bahwa iman bisa hadir dengan wajah yang lembut.
Banyuwangi beruntung. Bukan semata karena memiliki seorang kepala kantor, tetapi karena dipertemukan dengan seorang penjaga makna. Seorang yang memahami bahwa merawat budaya lokal adalah bagian dari ibadah sosial. Bahwa mengenakan udeng adalah bentuk dzikir. Bahwa memberi ruang pada seni adalah cara bersujud yang lain.
Maka ketika hari ini namanya disebut dalam daftar orang-orang yang dianggap berjasa, saya kira itu bukan sekadar penghargaan. Ia adalah pengakuan bahwa agama, ketika dipimpin oleh mereka yang berjiwa sastra, akan selalu menemukan jalannya untuk berdamai dengan tanah, manusia, dan sejarah.
Dan barangkali, itulah makna paling dalam dari kepemimpinan:
menjadi tamu yang tahu diri,
menjadi pendatang yang setia,
menjadi pejabat yang tetap manusia,
dan menjadi manusia yang tak lupa pada Tuhan
melalui budaya.
