Berkata Baik atau Diam: Iman yang Menjelma dalam Lisan. Kajian Kitab Al-Arba'in an-nawawi disampaikan langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Dr. Chaironi Hidayat, S. Ag., M.M


Segala puji bagi Allah yang menjadikan kata sebagai jembatan atau jurang, sebagai cahaya atau bara. Shalawat dan salam tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang sabdanya menembus zaman, melampaui lima belas abad, namun tetap terasa segar di tengah riuhnya dunia digital hari ini. 


Dalam Hadits ke-15 dari kitab agung Arba’in An-Nawawiyah, Rasulullah bersabda:

> “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.”

(Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Hadis ini dipilih oleh Imam An-Nawawi dalam kitabnya Arba’in An-Nawawiyah, kumpulan 42 hadis pilihan yang menjadi fondasi akhlak dan kehidupan seorang muslim. Bayangkan, dari ratusan ribu hadis yang diriwayatkan, beliau memilih 42 yang paling padat makna—seperti intisari samudra yang dituang ke dalam satu bejana kecil.

Iman yang Terlihat dari Lisan

Rasulullah tidak berkata: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia banyak berbicara.” Tidak pula beliau memberi opsi ketiga. Hanya dua: berkata baik atau diam.

Di sinilah iman diuji.

Bukan di mimbar yang tinggi.

Bukan di status yang ramai disukai.

Tetapi di ujung lidah.

Hari ini, lisan bukan hanya mulut. Ia menjelma menjadi jempol. Ia berubah menjadi unggahan. Ia menyaru dalam komentar, sindiran, dan status yang tampak bijak namun menyimpan bara.

Jika standar iman adalah “berkata baik atau diam”, maka betapa banyak ruang media sosial yang perlu kita renungkan ulang. Kita hidup di zaman ketika keburukan lebih cepat viral daripada kebaikan. Ketika kabar negatif lebih menarik perhatian daripada kabar yang menyejukkan.

Seolah-olah kita lupa: setiap kata adalah saksi.

Setiap huruf akan dipanggil kembali pada hari akhir.

Iman bukan sekadar pengakuan. Ia adalah disiplin batin. Jika tidak mampu berkata baik, maka diam adalah kemuliaan. Diam bukan kelemahan; ia adalah penjaga jiwa.

Memuliakan Tetangga: Ukuran Keimanan yang Nyata

Rasulullah melanjutkan: siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.

Tetangga adalah cermin akhlak kita. Jika ingin mengetahui siapa kita sebenarnya, jangan tanya kepada diri sendiri—tanyakan kepada orang yang tinggal di sebelah rumah.

Memuliakan tetangga bukan hanya soal memberi makanan ketika memasak lebih. Ia adalah menjaga suara agar tak mengganggu, menjaga lisan agar tak melukai, menjaga sikap agar tak menimbulkan iri dan sakit hati.

Dalam dunia kerja, tetangga itu bernama rekan sejawat.

Di dunia maya, tetangga itu bernama sesama pengguna.

Jika kita rajin beribadah tetapi gemar menyindir, maka ada yang belum selesai dalam iman kita.

Memuliakan Tamu: Cermin Kelapangan Hati

Kemudian Rasulullah mengajarkan: siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.

Memuliakan tamu bukan berarti menyajikan yang paling mahal. Bukan soal kemewahan. Tetapi tentang ketulusan. Tentang membuat tamu merasa dihargai, bukan dipameri.

Para ulama berbeda pendapat tentang batas kewajiban memuliakan tamu—ada yang mengatakan sehari semalam, ada yang mengatakan tiga hari. Namun yang terpenting bukanlah durasi, melainkan sikap hati.

Karena kemuliaan bukan terletak pada apa yang dihidangkan, melainkan bagaimana ia dihidangkan.

Abu Hurairah: Periwayat yang Lapar tetapi Kaya Hati

Hadis ini sampai kepada kita melalui sahabat mulia, Abu Hurairah. Nama aslinya Abdurrahman bin Shakhr, namun dijuluki Abu Hurairah karena kecintaannya pada kucing kecil.

Beliau termasuk Ahlus Shuffah—para sahabat yang tinggal di serambi Masjid Nabawi. Hidupnya sederhana, bahkan sering menahan lapar. Namun justru dari kelaparan itulah lahir kekayaan ilmu. Ia meriwayatkan ribuan hadis, menjaga warisan Rasulullah untuk generasi setelahnya.

Bayangkan: seorang yang sering menahan lapar, tetapi lisannya penuh cahaya. Tidak ada keluhan, tidak ada cercaan. Yang ada hanya kesungguhan menjaga sabda Nabi.

Di zaman kita, perut kenyang, jaringan internet lancar, tetapi lisan sering lebih liar daripada orang yang kelaparan.

Evaluasi di Era Algoritma

Kita hidup di masa ketika komentar pedas lebih cepat menyebar daripada doa. Ketika sindiran terasa lebih cerdas daripada nasihat. Seakan-akan keberanian diukur dari seberapa keras kita membalas.

Padahal Rasulullah telah menetapkan standar yang sangat sederhana:

Beriman? Berkata baik.

Tidak mampu? Diam.

Tidak ada opsi ketiga.

Jika kita belum mampu menjadikan media sosial sebagai ladang pahala, setidaknya jangan menjadikannya ladang dosa. Jika belum bisa menenangkan, jangan memperkeruh. Jika belum bisa membangun, jangan meruntuhkan.

Iman bukan hanya tentang rukuk dan sujud. Ia tentang bagaimana kita hadir di tengah manusia.

Penutup: Iman yang Membumi

Hadis ke-15 ini tidak berbicara tentang ritual yang rumit. Ia tidak menjelaskan detail ibadah yang teknis. Ia berbicara tentang akhlak—tentang hubungan horizontal yang menjadi bukti hubungan vertikal.

Berkata baik.

Memuliakan tetangga.

Memuliakan tamu.

Tiga hal yang tampak sederhana, tetapi justru di situlah letak kedalaman iman.

Semoga kita termasuk orang yang ketika lisannya bergerak, ia menumbuhkan kebaikan. Dan ketika ia memilih diam, ia sedang menjaga iman.

Karena pada akhirnya, iman bukan hanya di dada—

Ia terdengar dalam kata,

Terlihat dalam sikap,

Dan terasa dalam kehadiran kita di tengah sesama.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama