BANYUWANGI (Bimas Islam)– Pemerintah Kabupaten Banyuwangi secara resmi meluncurkan program Masjid Ramah Pemudik di Masjid Al Huda, Lingkungan Bulusan, Kecamatan Kalipuro, Selasa (17/03/2026). Program ini dirancang sebagai intervensi pelayanan publik berbasis keagamaan untuk mendukung kenyamanan dan keselamatan pemudik selama arus mudik Ramadan dan Idul fitri.
Peluncuran ini menandai komitmen pemerintah daerah dalam mengoptimalkan fungsi masjid sebagai simpul layanan sosial-keagamaan yang adaptif terhadap kebutuhan mobilitas masyarakat. Program tersebut mencakup penyediaan fasilitas istirahat, layanan kesehatan dasar, hingga relaksasi berupa pijat gratis selama 15 menit bagi pemudik.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Chaironi Hidayat, dalam laporannya menyampaikan bahwa terdapat 48 masjid yang terlibat dalam program ini. Masjid-masjid tersebut tersebar di jalur strategis, meliputi jalur utara, tengah, dan barat, dengan 13 masjid berada di jalur nasional utama.
Menurutnya, proses seleksi masjid tidak hanya mempertimbangkan aspek geografis, tetapi juga parameter kesiapan infrastruktur dan nilai representatif sebagai ikon pelayanan umat. Fasilitas yang disediakan meliputi area parkir yang memadai, ruang istirahat, layanan kesehatan, serta dukungan logistik konsumsi.
“Masjid-masjid ini merupakan representasi wajah pelayanan umat. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi termasuk daerah yang progresif dan responsif dalam menginisiasi program ini,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa seluruh kebutuhan logistik seperti kopi, teh, gula, dan air mineral disuplai melalui Badan Amil Zakat Nasional Banyuwangi sebagai bentuk kolaborasi sosial kelembagaan.
Lebih lanjut, Chaironi menegaskan bahwa program ini merupakan manifestasi penguatan fungsi masjid sebagai pusat pelayanan umat yang tidak terbatas pada ibadah mahdhah, melainkan juga mencakup dimensi sosial dan kemanusiaan.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, dalam arahannya menekankan pentingnya redefinisi fungsi masjid dalam konteks pembangunan sosial. Menurutnya, masjid harus mampu bertransformasi menjadi ruang publik yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
“Masjid tidak hanya menjadi ruang ibadah ritual, tetapi juga memiliki fungsi sosial yang strategis. Kehadirannya harus mampu memberikan layanan yang lebih luas bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah dan Kementerian Agama menjadi faktor kunci keberhasilan program ini, khususnya dalam aspek penyediaan layanan dan distribusi logistik yang didukung oleh BAZNAS.
Selain memberikan manfaat langsung bagi pemudik, program ini diharapkan mampu memperkuat citra Banyuwangi sebagai daerah yang ramah dan responsif, sekaligus membuka peluang pengembangan sektor pariwisata berbasis religi. Masjid-masjid yang terlibat diharapkan dapat menjadi titik singgah representatif yang mencerminkan nilai-nilai keramahan lokal.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kualitas ibadah, terutama di penghujung bulan Ramadan. Kegiatan peluncuran ini turut diikuti oleh seluruh masjid peserta program melalui platform virtual (zoom meeting), sebagai bentuk konsolidasi dan koordinasi terpadu.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam implementasi program ini. Sinergi antara pemerintah daerah, Kementerian Agama, dan lembaga sosial dinilai sebagai model kolaborasi yang efektif dalam menghadirkan layanan publik berbasis keagamaan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.

