Program Masjid Ramah Pemudik Didukung Baznas, Hadirkan Layanan Pijat Tunanetra di Masjid Al Huda

BANYUWANGI (Bimas Islam) Program Masjid Ramah Pemudik yang digagas Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi mendapat dukungan penuh dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Banyuwangi, khususnya dalam penyediaan perlengkapan masjid serta fasilitasi transportasi bagi para terapis tunanetra. Program ini telah diresmikan oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, beberapa hari menjelang Hari Raya Idulfitri.


Ketua Baznas Kabupaten Banyuwangi, Dwiyanto, menyampaikan bahwa dukungan tersebut merupakan bagian dari upaya memaksimalkan manfaat zakat agar memberikan keberkahan bagi para muzakki sekaligus membantu memakmurkan masjid. “Kami ingin amal para muzakki semakin berkah dengan mendukung pelayanan bagi para musafir, baik untuk beristirahat maupun menunaikan ibadah, khususnya di akhir Ramadan dan awal Syawal,” ujarnya.

Selain itu, Baznas juga menyalurkan santunan bagi anak yatim, janda lansia, serta dhuafa yang menjalani perawatan di rumah sakit daerah. Dwiyanto menegaskan bahwa program sosial tersebut merupakan komitmen berkelanjutan Baznas dalam mendukung kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, Ketua Yayasan Lentera Insan (YALI), Nurhadi Windoyo, mengungkapkan bahwa layanan pijat tunanetra di Masjid Al Huda disiapkan dalam dua shift, yakni pukul 09.00–15.00 WIB dan 15.00–21.00 WIB. Setiap shift diisi oleh terapis laki-laki dan perempuan, di antaranya Mbah Paijo, Mbah Dewo, Mbak Nur, Atim, Siti Nurjannah, Yanto, dan Betti, yang didampingi oleh pengurus secara bergantian.

Nurhadi yang juga seorang tunanetra sejak usia 17 tahun menegaskan bahwa keterbatasan penglihatan tidak membatasi potensi seseorang. “Tunanetra tidak identik dengan profesi pemijat. Banyak di antara kami yang menjadi dosen, penyanyi, qari, hingga ustaz,” ujarnya. Ia sendiri diketahui berprofesi sebagai guru komputer Braille di SLB Negeri serta aktif dalam berbagai kegiatan kreatif, termasuk produksi iklan dan drama radio.

Masjid Al Huda di Kelurahan Bulusan merupakan salah satu titik strategis dalam program Masjid Ramah Pemudik, karena berada di jalur utama menuju Pelabuhan Ketapang yang menghubungkan Banyuwangi dengan Bali. Lokasi ini menjadi persinggahan penting bagi pemudik dari arah Bali maupun jalur Banyuwangi–Situbondo.


Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi lintas sektor. “Sinergi antara pemerintah, lembaga, dan masyarakat menjadi kunci dalam memberikan pelayanan terbaik bagi para pemudik, mulai dari arus mudik hingga arus balik,” ujarnya.

Sejumlah pemudik mengaku terbantu dengan adanya layanan pijat gratis tersebut. Salah seorang pemudik asal Jember yang hendak menyeberang ke Bali menyatakan bahwa layanan tersebut membantu mengurangi kelelahan selama perjalanan. Hal senada disampaikan oleh seorang sales asal Situbondo yang merasakan manfaat layanan tersebut untuk memulihkan kondisi tubuhnya.

Di sisi lain, suasana kondusif di lingkungan masjid juga dijaga oleh petugas keamanan. Sudirman, salah satu petugas keamanan Masjid Al Huda, mengungkapkan bahwa para terapis telah dianggap sebagai bagian dari keluarga besar masjid. “Kami saling membantu dan mendukung program ini sebagai bagian dari pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.

Program Masjid Ramah Pemudik ini diharapkan dapat terus berlanjut sebagai bentuk pelayanan publik berbasis keagamaan yang tidak hanya memberikan kenyamanan, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial di tengah arus mobilitas masyarakat saat musim mudik.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama