Wisata Religi di Tengah Arus Balik, Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi Jadi Oase Spiritual Pemudik

BANYUWANGI, (Bimas Islam) Arus balik Idul Fitri 1447 Hijriah tidak hanya menghadirkan mobilitas tinggi para pemudik, tetapi juga memunculkan geliat wisata religi di sejumlah titik strategis. Salah satunya adalah Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi yang menjadi lokasi persinggahan utama bagi para musafir dari dan menuju Pulau Bali.


Masjid yang berada di pusat kota Banyuwangi ini tidak hanya dimanfaatkan sebagai tempat beristirahat, tetapi juga menjadi ruang ibadah dan refleksi spiritual bagi ratusan pemudik. Dalam perjalanan panjang yang melelahkan, para musafir memanfaatkan waktu singgah untuk menunaikan ibadah, berdzikir, dan menenangkan diri.

Sebagai bagian dari program Masjid Ramah Pemudik (MRP), masjid ini beroperasi selama 24 jam dan mengalami peningkatan jumlah pengunjung secara signifikan, terutama pada puncak arus balik, Sabtu (28/03/2026). Para pengunjung berasal dari berbagai daerah, baik yang melanjutkan perjalanan ke Bali maupun ke sejumlah wilayah di Jawa Timur.

Daya tarik masjid ini tidak hanya terletak pada fungsinya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai destinasi wisata religi. Di lantai dua masjid, terdapat Al-Qur’an raksasa berukuran sekitar 2 x 1,5 meter dengan berat mencapai 4 kuintal. Mushaf tersebut merupakan karya tulis tangan Haji Abdul Karim pada tahun 2010 dan hanya dikeluarkan pada bulan Ramadan untuk kegiatan tadarus. Keberadaan Al-Qur’an ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin menyaksikan secara langsung.

Selain itu, di area belakang masjid terdapat kompleks makam para bupati Banyuwangi terdahulu yang kerap dikunjungi peziarah. Keberadaan situs ini menghadirkan nuansa historis dan reflektif, terutama bagi masyarakat yang ingin mengenang perjalanan kepemimpinan daerah.

Di sekitar kawasan masjid, fasilitas penunjang turut menambah kenyamanan pengunjung. Taman Sri Tanjung menjadi ruang terbuka yang dimanfaatkan keluarga untuk beristirahat, sementara Pendopo Sabha Swagata menawarkan ruang budaya yang terbuka bagi publik. Di area pendopo juga terdapat sumur legendaris Sri Tanjung yang dikenal memiliki nilai historis dan daya tarik tersendiri.

Pelayanan kepada pemudik juga menjadi perhatian utama pengelola masjid. Takmir menyediakan fasilitas berupa kopi gratis serta area parkir yang luas untuk menunjang kenyamanan para pengunjung.


Salah satu pengurus takmir, H. Abdullah Fauzi, menyampaikan bahwa masjid ini tetap dibuka selama 24 jam, tidak hanya pada musim mudik, sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan tempat ibadah maupun tempat beristirahat.

Sepanjang bulan Ramadan hingga Idul Fitri, jumlah pengunjung tercatat mencapai ratusan hingga ribuan orang setiap harinya. Aktivitas ibadah seperti salat berjamaah, tadarus, dan dzikir turut menghidupkan suasana masjid.

Secara historis, Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi merupakan salah satu bangunan tertua di daerah tersebut. Masjid ini didirikan pada 7 Desember 1773 atas prakarsa Bupati pertama Banyuwangi, Raden Tumenggung Wiraguna I atau Mas Alit, dan hingga kini tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat.

Keberadaan masjid ini di tengah arus balik tidak hanya berfungsi sebagai tempat singgah, tetapi juga menjadi simbol bahwa perjalanan mudik tidak sekadar perpindahan fisik, melainkan juga momentum untuk memperkuat dimensi spiritual dan menemukan kembali ketenangan batin.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama