Pantai Pancur Alas Purwo Kembali Dipilih Jadi Titik Rukyatul Hilal 1 Zulhijjah 1447 H di Banyuwangi



BANYUWANGI – Pantai Pancur, destinasi ikonik yang terletak di dalam kawasan konservasi Taman Nasional Alas Purwo, kembali ditetapkan sebagai lokasi sentral pelaksanaan Rukyatul Hilal untuk menentukan awal bulan 1 Zulhijjah 1447 Hijriah. Kegiatan krusial yang menjadi dasar penetapan Hari Raya Idul Adha ini dijadwalkan berlangsung pada sore hari ini (17/05), dimulai pukul 16.00 WIB hingga selesai.

Keputusan memilih kembali Pantai Pancur didasarkan pada keunggulan geografisnya yang dinilai sangat strategis secara astronomis, sekaligus melanjutkan tradisi pengamatan hilal di ujung timur Pulau Jawa.

Alasan Penggunaan Pantai Pancur: Ufuk Barat Tanpa Penghalang

Secara teknis falakiyah, Pantai Pancur memiliki reputasi sebagai salah satu titik pantau terbaik di Jawa Timur. Menghadap langsung ke Samudra Hindia, lokasi ini menawarkan pandangan ufuk barat yang sangat bersih, datar, dan bebas dari polusi cahaya maupun penghalang fisik seperti perbukitan atau bangunan tinggi.

Kondisi medan yang bersih ini sangat krusial bagi para perukyat, mengingat hilal 1 Zulhijjah kerap kali berada pada posisi ketinggian yang tipis di atas ufuk dan rentan terhalang oleh material atmosfer maupun objek daratan.

Dihadiri Kepala Kemenag dan Sinergi Lintas Sektoral

Acara ini akan mengintegrasikan otoritas formal pemerintah dengan para pakar astronomi Islam. Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyuwangi, Bapak Chaironi Hidayat, dipastikan hadir langsung memimpin pemantauan bersama seluruh jajaran pejabat struktural dan kepala KUA se-Kabupaten Banyuwangi.

Proses teknis pengamatan dan perhitungan di lapangan akan dikomandoi oleh Badan Hisab Rukyat (BHR) Kabupaten Banyuwangi. Guna menjaga akurasi dan keabsahan hasil, BHR bersinergi dengan para ahli dari Lembaga Falakiyah dari berbagai Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam di Banyuwangi, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, LDII, dan ormas lainnya.

"Kehadiran seluruh elemen ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk sinergi umat. Kita memadukan keahlian akademis, teknologi, dan kesaksian syar'i untuk memberikan kepastian ibadah bagi masyarakat Banyuwangi," ungkap pihak Kemenag Banyuwangi sebelum bertolak ke lokasi.

Metode Pengamatan: Perpaduan Sains Modern dan Fikih

Pelaksanaan rukyatul hilal sore ini akan menerapkan metode penentuan yang komprehensif, menggabungkan metode hisab (perhitungan matematis) dan rukyat (pengamatan faktual):

Pra-Pengamatan (Hisab): Tim BHR telah melakukan kalkulasi matematis mengenai posisi matahari dan bulan, termasuk tinggi hilal hakiki, posisi hilal terhadap matahari, serta lama hilal di atas ufuk setelah matahari terbenam (sunset).

Pengamatan Faktual (Rukyat): Menggunakan alat bantu optik berupa teleskop digital modern yang dilengkapi dengan fitur tracking otomatis berbasis komputer, serta teodolit untuk menentukan koordinat presisi bulan.

Kesaksian Syar'i: Jika hilal berhasil terlihat, para perukyat yang melihatnya akan langsung disumpah di bawah Al-Qur'an oleh hakim Pengadilan Agama yang juga dihadirkan di lokasi, agar kesaksian tersebut sah secara hukum fikh dan tata negara.

Menuju Sidang Isbat Nasional

Seluruh data, dokumentasi, dan hasil pengamatan dari Pantai Pancur Alas Purwo ini—baik hilal berhasil terlihat maupun terhalang oleh mendung—akan langsung dilaporkan secara real-time kepada Kementerian Agama Pusat di Jakarta.

Laporan dari ujung timur Jawa ini akan menjadi salah satu rujukan dan bahan pertimbangan utama dalam Sidang Isbat Nasional yang dipimpin oleh Menteri Agama RI, guna mengetuk palu keputusan bersama mengenai jatuhnya 1 Zulhijjah dan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah secara nasional. (wh)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama