Edukasi Pencegahan Pernikahan Dini: KUA Srono Ajak Siswa Baru SMP Islam Al-Ma'arif Rejoagung Fokus Raih Cita-cita

KUA SRONO - BANYUWANGI, 14 Juli 2026  – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Islam Al-Ma'arif, Desa Rejoagung, Kecamatan Srono, Selasa (14/07/2026), berlangsung penuh antusias. Para siswa baru tampak larut dalam suasana diskusi yang inspiratif saat menerima pemaparan mengenai edukasi bahaya pernikahan dini oleh Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Srono.

Kehadiran dua penyuluh agama andalan KUA Srono, Hj. Umi Nadziroh dan Syaiful Bahri, membawa warna baru dalam kegiatan MPLS tahun ini. Keduanya tampil memukau, memadukan gaya komunikasi yang santai, interaktif, dan penuh dengan pesan moral yang relevan dengan masa remaja.

Suasana Hangat dan Penuh Antusiasme

Begitu Hj. Umi Nadziroh dan Syaiful Bahri naik ke atas mimbar, suasana aula yang semula riuh dengan tawa para siswa baru langsung berubah menjadi fokus. Gaya penyampaian keduanya yang tidak menggurui membuat para siswa merasa nyaman untuk berpartisipasi aktif dalam sesi tanya jawab.

Tidak jarang, tawa pecah saat para pemateri melontarkan candaan ringan yang diselipi dengan fakta-fakta mendalam mengenai risiko pernikahan di usia anak. Para siswa terlihat mengangguk paham saat dijelaskan bahwa masa remaja adalah masa emas untuk bereksplorasi dan menuntut ilmu, bukan untuk memikul tanggung jawab rumah tangga yang belum waktunya.

Membangun Kesadaran: Pernikahan Bukan Sekadar Status

Dalam penyampaian materinya, Hj. Umi Nadziroh menekankan pentingnya menjaga kehormatan diri dan masa depan. Ia menjelaskan bahwa pernikahan dini bukan hanya tentang kesiapan fisik, tetapi juga kesiapan mental, ekonomi, dan kematangan emosional.

"Kalian masih memiliki masa depan yang sangat panjang. Jangan biarkan masa depan itu terhenti hanya karena godaan atau tren pergaulan yang salah. Fokuslah belajar, raih cita-cita kalian setinggi langit, karena itulah bentuk investasi terbaik bagi keluarga dan masa depan kalian sendiri," tegas Hj. Umi Nadziroh di depan para siswa.

Sementara itu, Syaiful Bahri memberikan gambaran dari sisi dampak sosial dan kesehatan. Ia memaparkan bahwa pernikahan di usia dini seringkali membawa risiko yang tidak disadari, mulai dari ancaman kesehatan reproduksi hingga potensi ketidaksiapan dalam menghadapi konflik rumah tangga yang kompleks.

"Pernikahan itu sakral dan membutuhkan fondasi yang kokoh. Jika pondasinya belum kuat—baik dari segi usia, pengetahuan, maupun kesiapan mental—maka bangunan rumah tangga tersebut akan sangat rapuh. Kami hadir di sini karena kami ingin kalian semua sukses menjadi generasi yang berkualitas," tambah Syaiful dengan nada persuasif.

Harapan bagi Generasi Masa Depan

Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam upaya preventif KUA Srono untuk menekan angka pernikahan dini di wilayah Kecamatan Srono. Melalui pendekatan edukatif yang menyasar langsung ke bangku sekolah, KUA Srono berharap dapat menanamkan kesadaran sejak dini agar para remaja lebih bijak dalam menentukan langkah hidupnya.

Kepala SMP Islam Al-Ma'arif Rejoagung mengapresiasi kehadiran tim dari KUA Srono. Menurutnya, edukasi semacam ini sangat krusial bagi siswa baru sebagai bekal mental mereka dalam menghadapi pergaulan di masa SMP.

Sesi ditutup dengan deklarasi bersama para siswa untuk "Anti Pernikahan Dini" dan komitmen untuk fokus menyelesaikan pendidikan. Semangat para siswa yang menggebu-gebu menjadi bukti bahwa dengan pendekatan yang tepat, generasi muda saat ini sebenarnya sangat terbuka dan peduli terhadap masa depan mereka sendiri.(idear)

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama