Hari Puisi Indonesia di Banyuwangi, Saat Kata Menjadi Doa dan Kepedulian Menyapa Sesama

BANYUWANGI – Taman Blambangan, Minggu (26/7/2026), menjelma menjadi ruang yang mempersatukan keindahan sastra dengan nilai-nilai kemanusiaan. Di bawah langit Banyuwangi yang teduh, bait-bait puisi mengalir laksana doa, menyentuh hati para hadirin dalam peringatan Hari Puisi Indonesia yang digelar Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi bekerja sama dengan Banyuwangi Creative Market (BCM) dan Rumah Kebangsaan.

Perhelatan yang menjadi bagian dari peringatan satu tahun Banyuwangi Creative Market ini tidak hanya menghadirkan panggung baca puisi, tetapi juga donor darah, santunan bagi anak yatim, serta berbagai aksi sosial. Seni dan kepedulian berpadu dalam satu harmoni, menghadirkan pesan bahwa setiap kata yang lahir dari hati semestinya bermuara pada kemaslahatan sesama.

Dalam perspektif nilai-nilai keagamaan, sastra bukan sekadar rangkaian kalimat indah. Ia dapat menjadi jalan dakwah, media menyampaikan hikmah, serta sarana menumbuhkan kasih sayang antarmanusia. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Ma'idah ayat 2 yang mengajarkan untuk saling tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan, semangat itulah yang terasa hidup sepanjang kegiatan berlangsung.


Hari Puisi Indonesia sendiri ditetapkan berdasarkan deklarasi 40 penyair Indonesia pada 22 November 2012 di Anjungan Idrus Tintin, Pekanbaru, Riau, yang dibacakan Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri. Penetapan tanggal 26 Juli merujuk pada hari lahir Chairil Anwar pada 26 Juli 1922 di Medan, Sumatera Utara, dan secara resmi ditetapkan pemerintah sebagai Hari Puisi Indonesia pada tahun 2025. 

Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, mengatakan bahwa Hari Puisi Indonesia merupakan momentum untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap sastra sekaligus memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.

"Puisi adalah media yang mampu menyampaikan pesan kemanusiaan, membangun kepekaan sosial, serta mempererat persaudaraan. Karena itu, kami menggabungkan peringatan Hari Puisi Indonesia dengan kegiatan sosial agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat," ujarnya.

Panggung puisi menghadirkan beragam suara dari lintas generasi dan profesi. Penyair, guru, pelajar, santri, hingga pegiat literasi bergantian membacakan karya-karya terbaik mereka dengan penuh penghayatan.

Dari lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi hadir Kepala MTsN 5 Banyuwangi Herny Nilawati, Kepala MTsN 2 Banyuwangi Uswatun Hasanah, Lulu Anwariyah dan Cicik Handayani dari MTsN 4 Banyuwangi, Nurul Ludfia Rochmah, Ketua HISKI Komisariat Banyuwangi yang juga guru MAN 1 Banyuwangi bersama para siswanya, Nukhbah Fahiroh dari MTsN 1 Banyuwangi yang merupakan Juara Liga Puisi Kategori Guru sekaligus penerima penghargaan Sastra Tama, serta Nur Khofifah, guru MIN 1 Banyuwangi yang juga penerima penghargaan Sastra Tama.

Suasana semakin hidup ketika Elok Faiqoh, Juara Liga Puisi Kategori SLTA Tahun 2025, tampil membacakan puisi dengan penjiwaan yang kuat. Setiap larik yang dilantunkan seolah mengajak hadirin merenungi makna kehidupan, hingga tepuk tangan panjang mengiringi penampilannya.

Kesegaran juga datang dari para santri. Azka Dzakiyatus Shaleha, Zahiya Farha Sakinah, Muhammad Bisma Arkananta Mahardika, Kiasatina Elisa Yulfani, dan Ananda Nur Millati Laili dari MI Darunnajah 2 Tukang Kayu tampil percaya diri membacakan puisi. Penampilan mereka disusul para santri MI Syamsul Huda Bulusan, Kalipuro, yang memikat perhatian penonton dengan semangat dan ketulusan.

Salah satu momen yang paling menyentuh hadir ketika Purwowidodo, Penyelenggara Katolik Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, melangkah ke panggung membawakan puisi berjudul "Bukan Warisan Malaikat." Dengan intonasi yang tenang namun menghunjam, ia mengajak hadirin merenungi makna kemanusiaan, toleransi, dan tanggung jawab moral. Suasana seketika hening. Setiap larik seakan mengetuk nurani bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk menjauh, melainkan anugerah untuk saling mengenal dan menghormati.

Ketua Banyuwangi Creative Market, Rahmad Hidayat, mengapresiasi kolaborasi berbagai komunitas yang berhasil memadukan seni, kreativitas, dan aksi sosial dalam satu ruang kebersamaan. Menurutnya, sinergi tersebut menjadi energi positif bagi tumbuhnya ekosistem ekonomi kreatif sekaligus memperkuat budaya gotong royong di Banyuwangi.

Sementara itu, Ketua Rumah Kebangsaan, Hakim Said, menegaskan bahwa sastra merupakan salah satu jalan yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan persatuan. Ia berharap panggung-panggung sastra terus dihadirkan sebagai ruang dialog budaya yang mampu merawat harmoni di tengah keberagaman.

Kegiatan ini juga dihadiri Pengawas Madrasah St. Muanifah, penyair Faiz Abadi bersama putrinya Tirta Baiti Jannah, serta sejumlah penyair dan pegiat literasi dari berbagai komunitas. Hangatnya kebersamaan, antusiasme peserta, dan apresiasi masyarakat menjadi bukti bahwa puisi masih hidup, terus bertumbuh, dan tetap menemukan tempat di hati pembacanya.

Peringatan Hari Puisi Indonesia tahun ini menjadi pengingat bahwa kata-kata yang baik adalah amal yang tak lekang oleh waktu. Ketika puisi berpadu dengan kepedulian, santunan kepada anak yatim, donor darah, dan semangat berbagi, maka sastra tidak hanya menjadi keindahan bahasa, tetapi juga ikhtiar menebarkan rahmat bagi sesama. Dari Taman Blambangan, puisi mengajarkan bahwa merawat kemanusiaan adalah salah satu jalan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama