KUA SRONO - BANYUWANGI, 14 Juli 2026 – Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Srono, Kabupaten Banyuwangi, menggelar
kegiatan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) bagi 12 pasang calon pengantin (catin)
pada Selasa (14/07/2026). Kegiatan yang berlangsung khidmat di Balai Nikah KUA
Srono ini menjadi langkah preventif dan edukatif bagi para pasangan yang akan
menapaki jenjang pernikahan, guna membangun fondasi keluarga yang harmonis,
tangguh, dan berkelanjutan.
Acara dibuka secara resmi oleh
Kepala KUA Srono, Fahrus Shoffi. Dalam sambutannya,
beliau menekankan bahwa pernikahan adalah komitmen agung yang memerlukan
persiapan matang dari berbagai aspek. Menurut Fahrus, kesiapan administrasi
memang penting, namun persiapan mental dan spiritual jauh lebih krusial untuk
menghadapi dinamika kehidupan di masa depan.
Membangun
Kesadaran Hak dan Kewajiban
Dalam arahannya, Fahrus Shoffi
memberikan gambaran mendalam mengenai hakikat rumah tangga. Ia menegaskan bahwa
institusi pernikahan bukanlah sekadar dua individu yang hidup bersama di bawah
satu atap. Lebih dari itu, pernikahan adalah sebuah perjalanan panjang yang
menuntut tanggung jawab moral dan sosial.
"Kehidupan rumah tangga
tidak sesederhana dan hanya sekadar dua orang hidup dalam satu atap belaka.
Dalam rumah tangga, terdapat hak dan kewajiban yang harus dijalankan secara
beriringan. Keseimbangan antara memberi dan menerima, serta kesediaan untuk
saling melengkapi adalah kunci agar bahtera rumah tangga tidak karam di tengah
jalan," ujar Fahrus.
Strategi
Hadapi Tantangan: Fokus pada Komunikasi dan Ketahanan Keluarga
Setelah sesi pembukaan,
kegiatan dilanjutkan dengan pendalaman materi yang disampaikan oleh Iskandar, S.H.I., Penyuluh Agama Islam KUA Srono.
Mengingat tantangan sosial di Kabupaten Banyuwangi yang saat ini masih
mencatatkan angka perceraian di peringkat atas, materi yang disampaikan
Iskandar dirancang lebih spesifik mengenai manajemen konflik dan dinamika
"pernak-pernik" perjalanan rumah tangga.
Iskandar memaparkan bahwa
banyak pasangan yang belum sepenuhnya memahami bahwa komunikasi adalah detak
jantung sebuah keluarga. Kesalahan dalam berkomunikasi seringkali menjadi
pemicu retaknya hubungan yang sebenarnya bisa dihindari.
"Komunikasi adalah kunci
utama keberlangsungan rumah tangga. Kita perlu belajar bagaimana menyampaikan
keinginan, mendengarkan pasangan dengan empati, serta menyelesaikan
perselisihan tanpa harus mengedepankan ego. Jika fondasi komunikasinya kuat,
maka badai apa pun yang menerjang rumah tangga akan lebih mudah untuk dilalui
bersama," jelas Iskandar di hadapan para peserta.
Menuju
Keluarga Sakinah
Kegiatan Bimwin ini diharapkan
mampu membekali para calon pengantin dengan perspektif yang lebih luas mengenai
realita kehidupan setelah akad nikah. Para peserta tampak antusias mengikuti
setiap sesi, menyadari bahwa membangun keluarga yang sakinah,
mawaddah, warahmah tidak terjadi secara instan, melainkan hasil dari
kerja keras, kesabaran, dan pembelajaran yang terus menerus.
Dengan diselenggarakannya
bimbingan ini, KUA Srono berkomitmen untuk terus berperan aktif dalam menekan
angka perceraian melalui edukasi berkelanjutan. Diharapkan, 12 pasang calon
pengantin ini nantinya dapat menjadi agen perubahan yang mampu menjaga keutuhan
rumah tangga mereka, sekaligus berkontribusi positif bagi stabilitas sosial di
wilayah Srono, Banyuwangi.(idear)
