KUA SRONO - BANYUWANGI, 7 Juli 2026 — Masyarakat Jawa rupanya masih memegang teguh tradisi leluhur terkait kesakralan bulan Suro (Muharram). Sebagai bulan yang dianggap suci dan menjadi waktu untuk prihatin (introspeksi diri), menggelar hajatan besar—terutama pernikahan—di bulan ini diyakini sebagai pantangan besar. Realitas ini mentasbihkan bahwa warisan budaya lokal belum lekang oleh zaman, sebagaimana fenomena menarik yang terpantau di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Srono pada hari ini, Selasa (7/7/2026).
Berdasarkan keyakinan turun-temurun, melanggar pantangan menikah di bulan Suro dipercaya oleh sebagian masyarakat dapat mendatangkan musibah, membuat rezeki seret, hingga rumah tangga yang tidak langgeng. Alhasil, mayoritas masyarakat memilih bersabar menunda niat baik tersebut hingga memasuki bulan Safar (bulan setelah Suro) atau bulan-bulan baik lainnya dalam kalender Jawa.
Fenomena ini terlihat sangat jelas dari antusiasme peserta bimbingan pranikah di Balai Nikah KUA Srono hari ini. Tercatat tidak kurang dari 13 pasang calon pengantin (catin) mengikuti agenda pembekalan tersebut dengan khusyuk. Menariknya, belasan pasangan ini bukanlah mereka yang akan melangsungkan akad dalam hitungan hari di bulan ini, melainkan mereka yang telah menjadwalkan pernikahan untuk bulan Safar mendatang.
Kepala KUA Srono, Fahrus Shoffi, membenarkan adanya fenomena kultural tahunan tersebut. Menurutnya, bulan Muharram atau Suro selalu menjadi momen di mana grafik angka pernikahan di wilayahnya menurun drastis.
"Selama bulan Muharram atau Suro ini, khususnya di KUA Srono memang sangat sepi pengantin. Tercatat tak lebih dari empat pasang pengantin saja yang melangsungkan pernikahan di bulan ini," ungkap Fahrus Shoffi saat ditemui di ruang kerjanya.
Kondisi sepi hajatan ini praktis membuat aktivitas di luar kantor KUA menurun. Bagi para petugas pencatat nikah yang biasanya sibuk mondar-mandir dari satu lokasi hajatan ke lokasi lainnya pada bulan-bulan biasa (seperti bulan Besar atau Zulhijah), bulan Suro justru memberikan keleluasaan waktu tersendiri.
"Sehingga bulan Muharram ini bisa dikatakan sebagai bulan rehat bagi para penghulu," pungkas Fahrus Shoffi.
Pemandangan di KUA Srono hari ini menjadi cerminan unik bagaimana sistem administrasi dan layanan negara secara alami berjalan beriringan dengan ritme kepercayaan kultural masyarakat setempat. Tradisi tidak selalu menjadi penghambat; di Srono, tradisi justru memberi jeda bagi para penghulu untuk mengambil napas sebelum kembali sibuk di "musim kawin" bulan Safar nanti.(idear)
