BANYUWANGI (Bimas Islam) – Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi mengikuti kegiatan kuliah tujuh menit (kultum) di Masjid Ar Royan, Kamis (15/10/2026). Kultum disampaikan oleh Ali Mansyur, Pengawas Madrasah, dengan mengangkat tema pentingnya meluruskan niat, menetapkan tujuan yang benar, serta mengendalikan hawa nafsu dalam menjalankan amanah sebagai ASN.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M., bersama seluruh ASN muslim di lingkungan kantor.
Dalam ceramahnya, Ali Mansyur mengingatkan bahwa niat merupakan fondasi utama dalam setiap pekerjaan. Menjadi ASN hendaknya tidak sekadar berorientasi pada jabatan, gaji, maupun kepentingan pribadi, tetapi juga diniatkan sebagai bentuk pengabdian dan ibadah melalui pelayanan kepada masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya himmah, yakni tekad, semangat, dan cita-cita yang kuat untuk mencapai tujuan yang baik. Menurutnya, semangat menjadi ASN harus disertai niat yang lurus dan diwujudkan melalui perilaku yang jujur, disiplin, serta bertanggung jawab.
“Menjadi ASN bukan sekadar menjalankan rutinitas pekerjaan. Ada amanah yang harus ditunaikan dan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan. Karena itu, niat dan tujuan kita harus benar,” demikian pesan yang ditekankan dalam kultum tersebut.
Ali Mansyur turut mengingatkan pentingnya pengendalian nafsu dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika menjalankan tugas kedinasan. Hawa nafsu yang tidak dikendalikan dapat mendorong seseorang mencari pembenaran atas tindakan yang keliru, bahkan ketika tindakan tersebut bertentangan dengan aturan dan nilai kejujuran.
Ia menegaskan agar ASN tidak membenarkan sesuatu yang salah hanya demi keuntungan atau kenyamanan pribadi. Salah satu contoh yang disorot adalah perilaku datang terlambat ke kantor, tetapi mencatatkan kehadiran seolah-olah datang tepat waktu melalui aplikasi presensi.
Perilaku semacam itu, menurut pesan ceramahnya, bukan sekadar persoalan kedisiplinan, melainkan juga menyangkut integritas dan kejujuran seorang aparatur negara.
ASN diharapkan mampu menyelaraskan antara kehadiran yang tercatat dalam sistem dengan kenyataan di lapangan. Teknologi presensi seharusnya menjadi instrumen untuk menegakkan disiplin, bukan dimanfaatkan untuk menutupi pelanggaran.
Melalui kultum ini, para ASN diajak menjadikan pekerjaan sebagai ruang pengabdian yang berlandaskan niat baik, semangat berprestasi, dan kemampuan mengendalikan diri. Keberhasilan seorang ASN tidak hanya diukur dari pencapaian administrasi, tetapi juga dari kejujuran, keteladanan, dan kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.
Kegiatan kultum di Masjid Ar Royan tersebut menjadi pengingat bahwa integritas harus dimulai dari diri sendiri. Meluruskan niat, menjaga kedisiplinan, dan berani mengakui kesalahan merupakan bagian penting dari upaya mewujudkan ASN Kementerian Agama yang profesional, berintegritas, dan amanah.
