KUA SRONO — BANYUWANGI, 14 Oktober 2026, Menikah bukan sekadar merajut romansa atau meresmikan hubungan dalam ikatan hukum dan sosial. Lebih dari itu, pernikahan adalah sebuah transformasi eksistensial, peleburan ego, serta perjalanan spiritual untuk mengutuhkan kemanusiaan seseorang.
Pesan mendalam tersebut mengemuka dalam kegiatan Bimbingan Perkawinan (Binwin) bagi sejumlah calon pengantin yang digelar di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Srono. Acara ini dikemas secara interaktif, membedah hakikat pernikahan dari kacamata filosofis, kearifan lokal, hingga edukasi keluarga berencana yang renyah namun sarat makna.
Membedah Lima Tahapan
Ideal Pernikahan
Dalam pemaparan materi, ditekankan bahwa membangun bahtera rumah tangga yang kokoh idealnya melalui lima tahapan transformatif:
- Taaruf: Saling mengenal tidak hanya secara fisik, tetapi juga latar belakang satu sama lain.
- Tafahum: Saling memahami karakter, kelebihan, hingga kekurangan pasangan.
- Tawafuk: Menemukan kesesuaian visi hidup dalam mengarungi masa depan.
- Tasabut: Membangun kemantapan komitmen di tengah berbagai perbedaan.
- Tafaul: Menumbuhkan optimisme bersama dalam menghadapi dinamika kehidupan rumah tangga.
Menyelami Kearifan Lokal
dan Lintas Perspektif
Tidak hanya berhenti pada tahapan normatif, pemateri juga mengajak para peserta meresapi filosofi pernikahan dari berbagai sudut pandang budaya dan spiritual:
- Perspektif Filsafat Jawa (Ki Ageng Suryomentaraman): Menikah itu sejatinya sederhana, yakni kesiapan untuk mencukupi tiga kesatuan dasar: Cumbana (kebutuhan biologis), Bebrayan (bermasyarakat dan berkeluarga), serta Ngraosaken Endah (menikmati keindahan hidup bersama). Keseimbangan ketiga unsur ini diyakini mampu melahirkan ketenteraman sejati (sakinah).
- Perspektif Filsafat Hindu (Empat Penyatuan): Pernikahan melibatkan empat dimensi yang harus diselaraskan secara bertahap, mulai dari pernikahan fisik (tubuh), pikiran (penyelarasan ego), jiwa, hingga hubungan antar keluarga besar. Banyak kegagalan rumah tangga terjadi karena pasangan hanya selesai pada penyatuan fisik tanpa menyatukan pikiran dan jiwa.
Dinamika Rumah Tangga
dan Sesi Interaktif Alat Kontrasepsi
Setelah mengupas tuntas filosofi pernikahan dari berbagai spektrum, suasana bimbingan kian hidup dan mencair saat Iskandar selaku pemateri memaparkan dinamika nyata perjalanan rumah tangga yang kerap diwarnai riak-riak kecil.
Suasana semakin interaktif ketika Hilki Dwi Fatmaya, pemateri dari PLKB Kecamatan Cluring, mengambil alih panggung untuk memberikan penyuluhan kesehatan. Dengan gaya penyampaian yang santai, ia membagikan tips dan trik jitu bagi para calon pengantin dalam menentukan pilihan alat kontrasepsi yang tepat guna merencanakan jumlah keluarga yang ideal sejak dini.
Melalui pembekalan komprehensif ini, para calon pengantin di
KUA Srono diharapkan tidak hanya siap secara administratif dan mental, tetapi
juga memiliki fondasi filosofis dan kesehatan reproduksi yang matang sebelum
melangkah ke jenjang pelaminan.(idear)

