Bimbingan Remaja Usia Sekolah dan Tepuk RQQ
Oleh : Syafaat
Orang sering membayangkan bahwa suara yang paling keras selalu menang: tepuk paling meriah, sorak paling bising, konten paling viral. Tetapi ada saat-saat ketika justru yang paling sunyi itulah yang menembus paling jauh. Tepuk RQQ (Remaja Qeren Qurani) tidak pernah mengejar popularitas, tidak pula menuntut gegap-gempita seperti Tepuk Sakinah yang sering muncul di beranda-beranda media sosial. Ia hanya datang sebagai denyut kecil, sebagai isyarat yang setia, sebagai panggilan lembut kepada jiwa-jiwa muda. Ia hidup di kelas-kelas sederhana, pada jam-jam siang yang biasa, di bawah payung besar yang disebut Kementerian Agama.
Ada sesuatu yang menenangkan ketika melihat bagaimana dua tepuk yang berbeda itu sesungguhnya berjalan ke arah yang sama: membantu manusia kembali mengenali dirinya. Yang satu menjadi jembatan menuju rumah tangga yang sakral. Yang lain menjadi lentera kecil bagi remaja yang sedang menata langkah di simpang jalan. Kadang manusia tidak butuh megafon untuk menemukan arah; kadang hanya butuh sepasang tangan yang saling bertepuk tanpa hiruk-pikuk.b
Pada suatu siang di Srono, angin terasa berjalan lambat, seolah ingin duduk bersama para remaja yang mengisi lembar-lembar kecil berisi pertanyaan sederhana: hobimu apa, kelebihanmu apa, kekuranganmu apa, dan apa yang kau bayangkan sepuluh tahun lagi. Pertanyaan yang tampaknya lahir dari ruang BK sekolah, tetapi justru membuka pintu yang selama ini tertutup oleh banjir notifikasi. Kadang manusia butuh dipanggil pulang ke dirinya sendiri.
Anak-anak muda itu, yang konon disebut generasi paling rumit (Gen-Z) mendadak menjadi sekumpulan jiwa yang sedang belajar mengenali cahaya. Mereka hidup di zaman yang tidak mengenal jeda; keputusan yang diambil dalam hitungan menit bisa mengubah arah hidup bertahun-tahun. Pergaulan, tekanan teman sebaya, keinginan untuk diterima, godaan-godaan yang sering tampak lebih menarik daripada nasihat. Sesekali mereka berhenti, dan berhenti itu, pada usia seperti mereka, adalah keberanian.
Yang paling menyentuh adalah ketika mereka mulai menulis apa yang paling penting dalam hidup. Kertas-kertas itu tidak diisi oleh aksesoris digital. Tidak ada keinginan jadi viral, tidak ada ambisi untuk memenangkan perhatian orang asing di layar. Yang tertulis adalah hal-hal yang sejak manusia diciptakan selalu menjadi rumah bagi ketenangan: kejujuran, keluarga, ibadah, persahabatan, masa depan yang bersih. Di titik itulah tampak fitrah. Cahaya bawaan yang tidak pernah padam, hanya tertimbun debu zaman.
Ketika mereka berbicara tentang kelebihan dan kekurangan, suara mereka bergetar. Seolah ada pintu yang selama ini dikunci rapat, kemudian perlahan dibuka oleh kunci bernama kejujuran. Tidak ada yang lebih menakjubkan daripada manusia muda yang mulai berani mengatakan: “Inilah aku.” Sebab dari kesadaran seperti itu, dunia sering berubah.
Setelah itu mereka menggambar harapan lima atau sepuluh tahun ke depan. Dalam gambar-gambar itu terlihat jembatan kecil menuju masa depan: menjadi dokter, guru, ahli teknologi, desainer, penghafal Qur’an, atau sekadar manusia baik. Yang sederhana kadang justru paling jernih. Gambar-gambar itu adalah jembatan, dan jembatan itu mulai berdiri hari itu juga, di halaman sebuah madrasah yang wangi oleh debu Jumat.
Lalu tibalah saat mereka menggambar tantangan hidup. Tidak ada yang dikecilkan. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Narkoba, perundungan, kecanduan gawai, pergaulan bebas, pernikahan dini. Di tangan-tangan yang masih muda itu, zaman tergambar seperti peta perang yang harus mereka masuki. Tetapi setelah gambar-gambar itu lahir, hadir pula percakapan yang lama hilang di antara generasi: tentang sebab, akibat, dan arah. Tentang apa yang disebut ulama sebagai sunnatullah, bahwa hidup selalu membalas dengan cara yang jujur.
Mungkin inilah yang sering luput dari pandangan orang dewasa: bahwa remaja sebenarnya tidak menunggu ceramah yang keras. Mereka tidak sedang menanti larangan yang jatuh seperti batu, atau suara tinggi yang memerintah tanpa jeda. Yang mereka perlukan hanyalah peta, bukan peta di kertas, tetapi peta batin yang menunjukkan arah dengan lembut. Larangan bisa menahan langkah, tetapi pemahamanlah yang menjaga hati. Remaja membutuhkan alasan mengapa sesuatu harus dijauhi, bukan sekadar perintah untuk patuh. Mereka butuh mengerti bahwa satu keputusan kecil di usia tujuh belas dapat memengaruhi hidup mereka bertahun-tahun ke depan. Kebijaksanaan yang turun perlahan, seperti hujan sore, jauh lebih kuat daripada ancaman yang keras namun cepat menguap.
Pada usia mereka, yang paling menyentuh bukanlah suara yang meninggi, melainkan penjelasan yang jujur. Sebuah cahaya yang menunjukkan bahaya tanpa menakut-nakuti, dan menunjukkan kebaikan tanpa merendahkan. Begitulah para Nabi mengajarkan: dengan hikmah, dengan kelembutan, dengan cahaya yang bekerja diam-diam. Remaja mungkin tidak berubah seketika, tetapi ketika mereka memahami, sesuatu di dalam diri mereka bergerak pelan. Itu tanda bahwa peta mulai bekerja. Bahwa arah perlahan muncul, bahwa kebijaksanaan sedang tumbuh di hati yang masih terus mencari.
Ketika fasilitator mulai menyebut nama Yahya, Isa, Yusuf, Ibrahim, Ismail, Musa, Luqman, dan Muhammad muda, suasana menjadi tenang. Nama-nama itu turun seperti bintang yang sudah lama menunggu kesempatan untuk dilihat. Anak-anak itu mendengarkan, bukan seperti mendengar dongeng, tetapi seperti mendengar sesuatu yang pernah mereka kenal. Barangkali karena usia mereka adalah usia yang pernah dipilih Tuhan sebagai usia para Nabi menyalakan cahaya. Maka dari diskusi itu lahir enam karakter Remaja Qeren Qur’ani: bijaksana, religius, moderat, baik dan membaikkan, bertanggung jawab, dan semangat mengembangkan diri. Karakter-karakter yang pernah tumbuh di tanah para Nabi, dan kini tumbuh kembali di tanah Banyuwangi.
Pada sesi berikutnya, mereka belajar melindungi diri, mereka memotret marah, takut, sedih, bingung. Mereka belajar bahwa keputusan kecil bisa menentukan kualitas hidup bertahun-tahun, mereka belajar bahwa kata-kata adalah senjata yang kadang menyembuhkan, kadang menghancurkan. Di bagian ini mereka menemukan bahwa komunikasi bukan perkara vokal, tetapi perkara hati yang memilih untuk menjaga.
Ketika kegiatan ditutup dengan Al-Fatihah, beberapa remaja menutup mata lebih lama. Mungkin di dalam hening itu mereka sedang menyusun doa-doa yang tidak pernah sempat dirapikan: agar tetap kuat, agar masa depan tidak patah, agar hidup mereka diberi makna. Dan barangkali memang itulah inti dari semua bimbingan ini: bahwa manusia muda membutuhkan cahaya. Cahaya yang tidak memaksa. Cahaya yang tidak menggurui. Cahaya yang bekerja pelan, seperti benih yang menyentuh tanah subur.
Cahaya itu mungkin bersumber dari para Nabi, atau mungkin justru muncul dari hati mereka sendiri, hati kecil yang selama ini kita kira terlalu muda untuk memahami arah hidup. Padahal cahaya bekerja dengan caranya sendiri: tidak pernah memaksa, tidak pernah tergesa, hanya menunggu hati yang siap menerima. Para Nabi memang tidak lagi hadir secara fisik, tetapi nilai-nilai mereka tidak pernah lenyap. Nilai itu mengalir seperti mata air yang terus mencari celah untuk menyentuh siapa pun yang ingin belajar menjadi manusia. Sebab para Nabi tidak hilang; mereka hanya berpindah tempat. Dari padang-padang tua ke ruang-ruang kelas sederhana, dari lembaran kitab ke batin para remaja yang sedang tumbuh. Mereka bergerak melalui kejujuran Yusuf, keberanian Musa, kelembutan Isa, kebijaksanaan Luqman, dan keteguhan Muhammad muda, berpindah seperti angin tenang yang menyusup lewat pintu-pintu kecil dalam diri manusia.
Dan barangkali, pada generasi yang sering dianggap rapuh ini—generasi yang dituduh mudah goyah oleh gawai, mudah lengah oleh gemerlap, mudah terseret oleh arus, sesungguhnya sedang tumbuh generasi yang paling sadar. Generasi yang diam-diam sedang mencari arah, mencari makna, mencari suara batinnya sendiri.
Generasi Remaja Qeren Qur’ani. Generasi yang berjalan tidak dengan peta dunia, tetapi dengan peta jiwa. Generasi yang membawa kompas yang tak dijual di toko mana pun: Mereka mungkin masih tertatih, masih ragu, masih sering salah. Namun setiap langkah kecil yang jujur selalu lebih bernilai daripada lompatan besar yang kosong. Cahaya yang mereka bawa bukan cahaya yang menyilaukan; itu cahaya yang lembut, yang bekerja diam-diam, yang tumbuh dari dalam.
Dari cahaya-cahaya kecil itu, akan lahir generasi yang mampu menyinari zaman yang lebih luas dari diri mereka sendiri. Generasi yang menjadikan nilai sebagai pakaian, kejujuran sebagai napas, dan kesadaran sebagai bekal perjalanan panjang menuju kedewasaan yang tidak hanya matang secara usia, tetapi matang secara ruhani. kelak lahir seseorang yang menulis sejarah dengan ketulusan Yusuf, keberanian Musa, kelembutan Luqman, atau kejujuran Muhammad muda. Siapa tahu. Sebab cahaya selalu bekerja diam-diam, lembut, dan memilih hati yang bersedia dibimbing.
Penulis ASN / Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.
