Apel Pagi KUA Cluring Diwarnai Tilawah dan Kajian Keutamaan Nishfu Sya’ban

 

Banyuwangi (KUA Cluring) — Suasana pagi di halaman KUA Kecamatan Cluring, Senin (26/1/2026), berlangsung khidmat dan penuh ketenangan. Apel pagi rutin ini dipimpin langsung oleh Kepala KUA Cluring, Gufron Mustofa, serta diikuti oleh seluruh pegawai KUA dan mahasiswa PPL/PKL dari UNIIB dan UIN KHAS.

Dalam amanatnya, Kepala KUA mengawali kegiatan dengan mengajak seluruh peserta apel untuk membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan melantunkan kalimat thayyibah sebagai pembuka aktivitas.

“Kita awali aktivitas hari ini dengan membaca Al-Qur’an dan kalimat thayyibah agar hati kita tenang, pikiran jernih, dan setiap pekerjaan yang kita lakukan benar-benar bernilai ibadah,” ujar Gufron Mustofa.

Ia menekankan bahwa membiasakan tilawah dan dzikir di awal kegiatan memiliki manfaat besar, seperti menenangkan jiwa, memperkuat niat, serta membentuk sikap jujur dan amanah dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.

Usai apel, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan kitab Ghayatul Bayan Li Fadhaili Lailatin Nishfi Min Sya’ban yang dibacakan oleh Zaki, mahasiswa PPL UNIIB. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran keilmuan sekaligus upaya menanamkan kecintaan terhadap tradisi kajian kitab di lingkungan KUA.

Dalam penjelasan tambahannya, Kepala KUA Cluring menyampaikan bahwa kitab tersebut menguraikan keutamaan malam Nishfu Sya’ban serta amalan-amalan yang dianjurkan untuk menghidupkannya.

“Melalui kitab Ghayatul Bayan, kita diingatkan tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban dan pentingnya menghidupkan malam tersebut dengan amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa salah satu amalan utama yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

“Memperbanyak sholawat dapat menghadirkan ketenangan batin, menumbuhkan cinta kepada Rasulullah, serta menjadi sebab turunnya rahmat dan syafaat,” ungkapnya.

Sebelum kegiatan mengaji kitab diakhiri, salah satu Penyuluh Agama Islam KUA Cluring, Ahmad Jauhari Fadhli, turut memberikan penjelasan tambahan terkait makna hadis kullu bid‘atin dholalah, wa kullu dholalatin fin naar. Ia menjelaskan bahwa pemahaman hadis tersebut perlu dilihat secara utuh dan bijak.

Ahmad Jauhari Fadhli menerangkan bahwa tidak semua bid‘ah dimaknai sebagai kesesatan, melainkan terdapat bid‘ah hasanah (baik) dan bid‘ah dholalah (sesat). Bid‘ah yang tergolong hasanah adalah inovasi dalam praktik keagamaan yang tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, serta membawa kemaslahatan, sedangkan bid‘ah dholalah adalah amalan baru yang menyimpang dari ajaran pokok Islam.

Penjelasan ini menambah wawasan peserta kegiatan agar lebih bijak, moderat, dan tidak mudah menghakimi, sekaligus memperkuat pemahaman keagamaan yang rahmatan lil ‘alamin.

Di akhir kegiatan, Kepala KUA Cluring menyampaikan harapannya agar rangkaian kegiatan ini tidak hanya menjadi rutinitas semata.

“Saya berharap kegiatan seperti ini mampu membentuk pribadi yang profesional dalam bekerja, kuat secara spiritual, dan bijak dalam memahami ajaran agama,” pungkasnya.

Melalui kegiatan apel, kajian kitab, dan penguatan pemahaman keagamaan ini, KUA Cluring terus berupaya menyinergikan spiritualitas, keilmuan, dan profesionalitas dalam setiap langkah pengabdian kepada umat. (Hr.S)


1 Komentar

Lebih baru Lebih lama