Langit Mendung di Alas Purwo, Rukyatul Hilal Dzulhijjah Tetap Berlangsung Khidmat

BANYUWANGI, 17 Mei 2027 — Suasana Pantai Pancur di kawasan Taman Nasional Alas Purwo, Ahad (17/5/2027), tampak berbeda dari biasanya. Menjelang matahari terbenam, puluhan peserta dari berbagai unsur berkumpul untuk mengikuti rukyatul hilal penentuan 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah yang diselenggarakan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi melalui Badan Hisab dan Rukyat (BHR).

Kegiatan tersebut melibatkan perguruan tinggi keagamaan Islam di Banyuwangi bersama para mahasiswa, organisasi kemasyarakatan Islam seperti Nahdlatul Ulama, LDII, Persis, serta jajaran kepala KUA se-Kabupaten Banyuwangi. Kehadiran berbagai unsur itu menjadikan rukyatul hilal bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang pembelajaran dan penguatan tradisi keilmuan Islam.


Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang diwakili Kasi Bimas Islam menjelaskan bahwa hasil rukyatul hilal dari Banyuwangi nantinya akan dikirimkan ke Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat penetapan awal Dzulhijjah 1447 Hijriah.

Menurutnya, rukyatul hilal merupakan perpaduan antara pendekatan ilmiah dan syariat Islam dalam menentukan awal bulan kamariah. Karena itu, proses pengamatan dilakukan secara teliti dengan melibatkan berbagai pihak yang memiliki kompetensi di bidang hisab dan rukyat.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat yang diwakili Yusdi Irawan turut memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai Pantai Pancur Alas Purwo memiliki potensi besar sebagai lokasi observasi hilal di Banyuwangi.

“Ke depan kami berharap tempat ini dapat dibangun lebih representatif dan permanen sehingga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan rukyatul hilal maupun praktik pembelajaran bagi mahasiswa dan santri,” ujarnya.

Dari unsur peradilan agama, hadir Wakil Ketua Pengadilan Agama Banyuwangi, Rezkiyatul Hasanah, bersama Panitera Pengganti Ikke Nuryanti Sulistyowati. Keduanya turut memberikan penjelasan mengenai mekanisme penetapan hasil rukyat serta proses validasi pengamatan hilal yang dilakukan di lokasi.

Meski cuaca sempat cerah menjelang sore, kondisi langit berubah ketika proses rukyat dimulai. Awan mendung menutupi ufuk barat sehingga hilal tidak berhasil terlihat. Namun demikian, suasana pengamatan tetap berlangsung khidmat. Para peserta tetap antusias mengikuti proses observasi menggunakan teleskop dan perangkat astronomi lainnya sambil berdiskusi mengenai metode hisab dan rukyat yang selama ini menjadi bagian penting dalam tradisi intelektual Islam.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama