Mengintip Ufuk Barat Alas Purwo: Geliat Edukasi dan Riuh Ukhuwah di Balik Mendung Rukyatul Hilal 1 Zulhijjah 1447 H

 


BANYUWANGI – Deru ombak Pantai Pancur yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia menjadi latar belakang momentum penting umat Islam sore itu. Di balik rimbunnya hutan purba Taman Nasional Alas Purwo, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Banyuwangi bersama Badan Hisab Rukyat (BHR) Kabupaten Banyuwangi menggelar otoritas rukyatul hilal global guna menentukan awal bulan Dzulhijjah 1447 Hijriah, Minggu (17/5/2026).

​Meski pada akhirnya panitia mengumumkan bahwa hilal tidak berhasil terdokumentasi akibat gumpalan mendung tebal yang mengunci ufuk barat, atmosfer di Pantai Pancur kali ini terasa sangat berbeda. Kegiatan ini tidak lagi sekadar menjadi ritual formalitas para ahli astronomi Islam, melainkan telah menjelma menjadi panggung edukasi massal dan ruang silaturahmi lintas sektoral yang dihadiri oleh ratusan peserta.

​Sinergi Panitia dan Kehadiran Multi-Elemen yang Membeludak

​Kelancaran logistik dan teknis di lokasi yang cukup terpencil di ujung timur Pulau Jawa ini merupakan buah kerja keras kerja sama taktis antara KUA Kecamatan Tegaldlimo dan KUA Kecamatan Purwoharjo. Kehadiran massa yang membeludak di luar prediksi membuktikan bahwa ketertarikan masyarakat terhadap ilmu falak semakin meningkat.

​Pantai Pancur sore itu menjadi titik temu berbagai elemen penting:

  • ​Aparatur Kemenag: Hadir secara komplit seluruh Kepala KUA se-Kabupaten Banyuwangi, didampingi oleh barisan penghulu serta Penyuluh Agama Islam (PAI) yang menjadi garda terdepan informasi keagamaan di masyarakat.
  • Ormas Islam & Organisasi Otonom: Sinergi ukhuwah terlihat jelas dengan duduk bersama perwakilan dari Nahdlatul Ulama (NU) dan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Kehadiran ibu-ibu Muslimat serta pemudi Fatayat NU Anak Cabang Tegaldlimo turut membawa nuansa kekeluargaan yang hangat di tepi pantai.
  • Dunia Akademis (Mahasiswa): Regenerasi pegiat ilmu falak tampak dari hadirnya delegasi mahasiswa dari tiga kampus berbasis pesantren terkemuka di Banyuwangi, yaitu STAIDU Wringinputih Muncar, Universitas Cordoba Tegalsari, dan UIMSYA (Universitas Islam KH. Mukhtar Syafa'at) Pondok Pesantren Darussalam Blokagung.
  • ​Jajaran Forkopimda dan Hukum: Menegaskan legalitas dan dukungan struktural, hadir perwakilan Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra), perwakilan Polresta Banyuwangi guna memastikan keamanan, serta Wakil Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Banyuwangi yang memegang otoritas yudisial penetapan hilal di tingkat daerah.

​Menyalakan Spirit Edukasi dalam Sambutan

​Acara seremonial dibuka sebelum matahari terbenam (ghurub). Sambutan pertama disampaikan oleh Saifudin Zuhri, S.Ag., Kepala KUA Purwoharjo yang saat ini juga mengemban amanah sebagai Plh. Kepala KUA Tegaldlimo. Dalam penyampaiannya, Saifudin menekankan rasa terima kasihnya atas dedikasi panitia gabungan dan kesediaan para undangan menembus jarak menuju Alas Purwo.

​"Pantai Pancur dipilih karena memiliki geografis yang strategis dengan sudut pandang langsung ke ufuk barat tanpa penghalang topografis daratan. Antusiasme yang luar biasa hari ini adalah bukti bahwa masyarakat ingin terlibat langsung dalam proses syariat ini," ungkap Saifudin.

​Selanjutnya, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Banyuwangi yang diwakili oleh Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Kasi Bimas) Islam, Mastur, M.Pd.I., memberikan arahan yang mendalam mengenai esensi rukyatul hilal. Mastur memandang momentum ini sebagai jembatan persatuan umat.

​"Rukyatul hilal ini adalah fardu kifayah. Namun di luar aspek hukum fikih, berkumpulnya kita di sini dari berbagai latar belakang—baik NU, LDII, mahasiswa, hingga jajaran birokrasi dan yudikatif—adalah wujud nyata dari ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Di sini kita belajar bersama, melihat bagaimana hisab (perhitungan) dikonfirmasi oleh rukyat (pengamatan)," jelas Mastur dalam sambutannya.

​Detik-Detik Penantian dan Pengumuman Hukum

​Memasuki pukul 17.15 WIB, perhatian ratusan pasang mata tertuju pada deretan teodolit dan teleskop astronomi yang telah dikalibrasi oleh tim BHR Banyuwangi. Para mahasiswa dari UIMSYA, Cordoba, dan STAIDU tampak bergantian mengintip ke lensa bidik, mencoba menyerap ilmu praktis langsung dari para pakar falakiah.

​Namun, alam berkata lain. Sejak sore, pergerakan awan kumulus di atas Samudra Hindia cukup masif. Ketika matahari tepat menyentuh garis cakrawala, gumpalan mendung tebal (awan low-to-mid level) menutup rapat posisi ketinggian hilal yang sebenarnya secara hitungan astronomis sudah berada di atas ufuk.

​Setelah dipastikan hingga batas waktu maktu’ (hilal tenggelam) tidak ada satu pun perukyat yang berhasil memotong tebalnya awan, prosesi beralih ke aspek legal-formal.

​Wakil Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Banyuwangi kemudian mengambil mimbar untuk membacakan putusan resmi. Di bawah sumpah hukum, ia menyatakan bahwa pada pelaksanaan rukyatul hilal 1 Zulhijjah 1447 H di titik pantau Pantai Pancur Alas Purwo, hilal dinyatakan tidak terlihat (Inkaanu Rukyah tidak terpenuhi karena faktor cuaca).

​Hasil dari berita acara penyaksian ini langsung ditandatangani dan ditransmisikan secara digital ke Kementerian Agama Pusat di Jakarta sebagai bagian dari laporan resmi (mukhbiri) daerah, yang akan digabungkan dengan titik pantau lain di seluruh Indonesia dalam Sidang Isbat Kementerian Agama RI untuk menetapkan jatuhnya Hari Raya Idul Adha 1447 H.

​Meski hilal tertutup mendung, para peserta membubarkan diri dengan senyum lebar. Bagi mereka, kegagalan melihat hilal hari itu digantikan dengan keberhasilan melihat indahnya kebersamaan umat Islam Banyuwangi yang rukun, kompak, dan religius. (WH)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama