BANYUWANGI, KUA TEGALDLIMO – Dalam upaya menekan angka perselisihan rumah tangga serta membangun fondasi masyarakat yang kokoh dari unit terkecil, Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tegaldlimo menggelar kegiatan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) intensif pada hari ini, Selasa (26/05/2026). Kegiatan yang berlangsung khidmat di Aula Utama KUA Tegaldlimo ini diikuti oleh 5 pasang calon pengantin (catin) yang berasal dari berbagai desa di wilayah Tegaldlimo.
Program Bimwin ini merupakan langkah strategis Kementerian Agama melalui KUA untuk memberikan "sertifikasi mental dan keilmuan" bagi para calon pengantin yang akan segera bermigrasi ke kehidupan berumah tangga. Menyadari kompleksitas tantangan domestik di era modern, KUA Tegaldlimo menghadirkan tiga narasumber ahli yang membedah kesiapan nikah dari sudut pandang spiritual, sosiologis, dan psikologis.
1. Fondasi Spiritual: Membangun Visi Keluarga Sakinah
Sesi pertama dibuka secara metodis oleh Fazza Rousi, yang membawakan materi utama mengenai Membangun Keluarga Sakinah. Dalam paparannya, Fazza menjelaskan bahwa sakinah (kedamaian) bukan sesuatu yang datang secara kebetulan, melainkan harus direncanakan dan diperjuangkan bersama.
Ia menekankan pentingnya mentransformasikan cinta romantis (mawaddah) menjadi cinta yang penuh kasih sayang dan tanggung jawab (rahmah) seiring berjalannya waktu. Para peserta diajak untuk menyamakan visi, menempatkan agama sebagai jangkar penyelesaian masalah, serta memahami hakikat pernikahan sebagai ibadah terpanjang dalam hidup.
2. Dimensi Sosiologis & Kesetaraan: Perspektif Keadilan dan Kesalingan
Menuju sesi kedua, dinamika kelas semakin interaktif saat Wahyu Fadhli Pribadi memaparkan materi bertajuk Perspektif Keadilan dan Kesalingan dalam Membangun Keluarga Sakinah. Wahyu membedah konsep mubadalah (kesalingan) dalam relasi suami-istri. Menurutnya, pernikahan yang kokoh adalah pernikahan yang tidak menempatkan salah satu pihak lebih superior dari yang lain.
"Keluarga sakinah hanya bisa tegak jika ada prinsip keadilan. Suami dan istri adalah mitra sejajar dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Ada kesalingan dalam menghargai, kesalingan dalam mendengarkan, dan kesalingan dalam berbagi beban domestik maupun finansial," ujar Wahyu di hadapan para peserta. Materi ini membuka wawasan baru bagi para catin mengenai pentingnya komunikasi yang sehat dan negosiasi tanpa kekerasan dalam mengambil setiap keputusan keluarga.
3. Dimensi Emosional: Mengelola Ego Lewat Psikologi Keluarga
Sebagai pemungkas rangkaian pembekalan, Sulis Nuhriyati Saudiyah hadir mengupas tuntas materi Psikologi Keluarga. Sesi ini berfokus pada kesiapan mental dan pengenalan regulasi emosi. Sulis memetakan fase-fase kritis adaptasi psikologis yang biasanya terjadi pada lima tahun pertama pernikahan.
Para catin dibekali keterampilan praktis dalam mengelola stres, memahami bahasa kasih pasangan, serta cara meredam ego saat terjadi perbedaan pendapat. Sulis mengingatkan bahwa perbedaan latar belakang pola asuh dan karakter adalah hal yang niscaya, namun dengan pemahaman psikologi yang baik, perbedaan tersebut justru dapat menjadi modal untuk saling melengkapi.
Komitmen Menekan Angka Perceraian Dini
Kepala KUA Tegaldlimo dalam draf laporan terpisah menyampaikan bahwa bimbingan perkawinan ini bukan sekadar rutinitas administratif menjelang akad nikah, melainkan sebuah ikhtiar preventif yang krusial. Melalui pembekalan yang menyentuh ranah agama, hukum relasi, hingga kesehatan mental ini, diharapkan 5 pasang catin yang hadir hari ini mampu menjadi pelopor keluarga harmonis di lingkungan mereka.
Kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga sore hari tersebut ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif serta foto bersama. Seluruh pasangan peserta mengapresiasi kedalaman materi yang diberikan dan mengaku jauh lebih siap secara mental untuk melangkah ke pelaminan. (Wah)
