Kultum Kamis Pagi di Masjid Ar-Royan, Gufron Musthofa: Kebahagiaan Sejati Terletak pada Kontribusi dan Keikhlasan

 



BANYUWANGI (Bimas Islam) – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Ar-Royan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, pada Kamis pagi (18/6/2026). Dalam kegiatan kultum rutin tersebut, Kepala KUA Cluring, Gufron Musthofa, menyampaikan tausiyah tentang hakikat kebahagiaan menurut perspektif Islam yang juga relevan dengan kehidupan modern. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi beserta jajaran ASN.


Dalam ceramahnya, Gufron Musthofa mengawali dengan menjelaskan bahwa istilah kebahagiaan memiliki beragam penyebutan dalam berbagai bahasa. Namun, menurutnya, yang lebih penting bukanlah istilahnya, melainkan bagaimana manusia memahami makna kebahagiaan itu sendiri.


Ia kemudian mengutip pandangan yang berkembang dalam literatur Barat mengenai empat tingkatan kebahagiaan. Tingkatan pertama adalah pleasure atau kesenangan sesaat, disusul achievement, yaitu kebahagiaan karena memperoleh pencapaian atau prestasi.


"Tingkat berikutnya adalah contribution, yakni ketika seseorang mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Kebahagiaan pada tahap ini jauh lebih panjang karena lahir dari kontribusi yang diberikan kepada masyarakat," ujarnya.


Menurut Gufron, bagi Aparatur Sipil Negara Kementerian Agama, kontribusi diwujudkan melalui pelaksanaan tugas dengan penuh tanggung jawab, selaras dengan nilai ASN BerAKHLAK dan semangat Kementerian Agama Berdampak.


Ia mencontohkan, seseorang yang memiliki ilmu, telah menempuh pendidikan hingga jenjang S-2 atau S-3, kemudian mengajarkan ilmunya kepada masyarakat, atau seseorang yang mampu membaca Al-Qur'an lalu mengajarkannya kepada orang lain. Demikian pula mereka yang memiliki rezeki dan membaginya kepada sesama. Semua itu merupakan bentuk kontribusi yang menghadirkan kebahagiaan yang lebih abadi.


"Dalam Islam, hal itu dikenal sebagai ilmu yang bermanfaat dan amal jariyah, yaitu amal yang pahalanya terus mengalir," jelasnya.



Lebih lanjut, Gufron menjelaskan tingkatan tertinggi kebahagiaan yang dalam pandangan Barat disebut ultimate happiness, yaitu melakukan segala sesuatu tanpa mengharapkan imbalan materi ataupun pujian manusia. Dalam ajaran Islam, konsep tersebut identik dengan keikhlasan.


"Orang yang bekerja dengan ikhlas akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Keikhlasan menjadi ruh dalam setiap amal, sebagaimana pesan para ulama, termasuk Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari yang menekankan pentingnya memurnikan niat dalam setiap perbuatan," tuturnya.


Ia mengingatkan bahwa seluruh ibadah pada hakikatnya bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salat, puasa, hingga ibadah haji merupakan sarana untuk membangun kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta.


Mengakhiri kultumnya, Gufron Musthofa mengajak seluruh ASN Kementerian Agama untuk tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga memperbanyak kontribusi serta menjaga keikhlasan dalam setiap pengabdian. Dengan demikian, kebahagiaan yang diraih bukan sekadar bersifat duniawi, tetapi menjadi kebahagiaan yang mengantarkan seseorang semakin dekat kepada Allah SWT.

1 Komentar

Lebih baru Lebih lama