Kemenag Banyuwangi dan Project HOPE Perkuat Edukasi Kesehatan Perempuan dalam Bimbingan Calon Pengantin


BANYUWANGI (Bimas Islam) – Komitmen menghadirkan layanan kesehatan yang inklusif dan bermutu terus diwujudkan Yayasan Project HOPE melalui kolaborasi bersama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Bertempat di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Rabu (8/7/2026), digelar kegiatan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan perempuan dewasa dalam program Bimbingan Calon Pengantin (Bimwin).

Kegiatan yang didukung Kimberly-Clark Foundation melalui pendanaan program tersebut merupakan bagian dari upaya Yayasan Project HOPE dalam membangun akses layanan kesehatan berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat, kapan pun dan dalam kondisi apa pun, termasuk saat terjadi bencana.

Ketua Yayasan Project HOPE, Flora Theodora Parapat, menjelaskan bahwa pencegahan kematian ibu setelah menikah masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Karena itu, edukasi kesehatan reproduksi bagi calon pengantin menjadi salah satu langkah strategis untuk membangun keluarga yang sehat sejak awal.

"Melalui kolaborasi dengan Kementerian Agama dan Dinas Kesehatan, kami ingin memastikan setiap calon pengantin memiliki bekal pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi dan kesehatan perempuan sehingga mampu menjalani kehidupan rumah tangga secara sehat dan berkualitas," ujarnya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M., menyampaikan apresiasi atas sinergi yang dibangun bersama Project HOPE. Menurutnya, Bimbingan Calon Pengantin tidak hanya mempersiapkan pasangan dari sisi keagamaan dan administrasi perkawinan, tetapi juga harus memperkuat pemahaman mengenai kesehatan sebagai fondasi lahirnya keluarga yang tangguh.


"Keluarga yang ideal dimulai dari ibu yang sehat. Inti dari bangsa yang baik adalah keluarga yang baik. Maka, memperbaiki bangsa harus dimulai dengan memperbaiki kualitas keluarga," ungkap Chaironi.

Ia juga mengingatkan bahwa Banyuwangi saat ini menempati peringkat ketiga angka perceraian tertinggi di Jawa Timur. Kondisi tersebut menjadi tantangan bersama untuk memperkuat pembinaan keluarga sejak sebelum pernikahan.

"Perkawinan bukan sekadar menyatukan dua insan, tetapi juga mempersiapkan generasi masa depan. Karena itu, edukasi kesehatan reproduksi dan kesehatan perempuan menjadi bagian penting dalam membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah," tegasnya.

Materi dalam kegiatan disampaikan oleh para fasilitator yang terdiri atas Kepala KUA, Penyuluh Agama Islam, serta dokter spesialis obstetri dan ginekologi. Para peserta mendapatkan pembekalan mengenai kesehatan perempuan dewasa, kesehatan reproduksi, kebersihan diri, gizi, serta berbagai langkah pencegahan risiko kesehatan yang dapat memengaruhi kualitas kehidupan keluarga.

Melalui edukasi tersebut, calon pengantin diharapkan memiliki kesadaran untuk menerapkan pola hidup sehat sejak memasuki kehidupan rumah tangga, sehingga mampu menekan risiko berbagai persoalan kesehatan, termasuk kematian ibu dan bayi.

Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa pembangunan keluarga berkualitas membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Project HOPE menghadirkan pengalaman global di bidang kesehatan masyarakat, sementara Kementerian Agama memperkuat pembinaan keluarga melalui program Bimbingan Calon Pengantin.

Sinergi tersebut diharapkan mampu melahirkan keluarga-keluarga Indonesia yang tidak hanya kokoh dalam nilai-nilai keagamaan, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap kesehatan, sehingga dapat melahirkan generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing.(hin)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama