KUA Srono, Banyuwangi - 21
September 2026 – Suasana hangat dan penuh
keakraban mewarnai pertemuan rutin kelompok binaan Program Keluarga Harapan
(PKH) di Dusun Sukolilo, Desa Sukonatar, Kecamatan Srono. Bertempat di halaman
rumah Solikin, warga setempat, puluhan ibu-ibu KPM (Keluarga Penerima
Manfaat)—beberapa di antaranya telah memasuki usia lansia—tampak duduk lesehan
dengan khidmat beralaskan terpal sederhana.
Pertemuan kali ini terasa spesial karena menyajikan kolaborasi sinergis antara pendamping PKH dan Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Srono. Hadir langsung mengawal kegiatan tersebut pendamping PKH, Mansur Mustofa dan Iskandar, serta Muh. Khoiruddin dari KUA Srono.
Di tengah sejuknya udara pagi, Iskandar membuka sesi penyuluhan dengan nada santai namun sarat pesan. Ia mewanti-wanti para peserta untuk terus mewaspadai maraknya ancaman judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol) ilegal yang kerap mengincar masyarakat.
"Ibu-ibu, judol dan pinjol ini penyakit yang harus kita hindari sejauh mungkin. Ingat ya, sampai hari ini belum ada dokter spesialis judol dan pinjol!" celetuk Iskandar yang langsung disambut tawa gemuruh dari para ibu-ibu dan lansia yang hadir, mencairkan suasana halaman rumah.
Tak kalah penting, Muh. Khoiruddin selaku Penyuluh Agama
Islam KUA Srono memberikan pembekalan terkait kepastian hukum dalam berumah
tangga, khususnya mengenai bahaya dan dampak pernikahan siri.
Ia menegaskan agar warga senantiasa melangsungkan pernikahan sesuai dengan syariat agama sekaligus aturan perundang-undangan yang berlaku. Langkah ini sangat penting dilakukan untuk melindungi hak-hak perempuan serta anak, sehingga tidak menimbulkan persoalan hukum maupun sosial di kemudian hari.
Meski dilaksanakan dengan fasilitas bersahaja di
pekarangan rumah warga, antusiasme para ibu-ibu lansia tidak surut hingga akhir
acara. Kombinasi edukasi ekonomi keluarga dan bimbingan keagamaan yang dibalut
dengan pendekatan humanis ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan keluarga
warga Desa Sukonatar. (idear)

